Friday, 10 November 2017

Crisis Over and Over Again

borrowed from here
I am in crisis, once more.
after taking a peek through my posts in 2016 and 2017,
I think this is the 4th time, I write the same stuff
about existential crisis.

I feel anxious, it's been years I haven't resolved
this kind of crisis.
I feel lost and ambiguous again.
it feels like I don't have any self-improvement
throughout these couple years.
insanely frustrating yet maddening.

accepting oneself is damn hard,
especially for an over-thinker and people-pleaser like me.
there are many things in my days which easily distract me.
each time I face trouble or something difficult,
causing uneasy and discomfort on me,
I tend to drift away with the stream of adversity I create myself.

I am afraid to fall in love with myself.
I am not ready to accept all the flaws and imperfections I own.
I don't feel okay each time I know I am not what I believe I am.

sigh.
complicated Stella always in action.

take a break dear Stella,
you need to hug yourself,
as tightly as you can.


I gave all my oxygen to people that could breathe
I gave away my money and now we don't even speak
I drove miles and miles, but would you do the same for me?
Oh, honestly?
Offered off my shoulder just for you to cry upon
Gave you constant shelter and a bed to keep you warm
They gave me the heartache and in return I gave a song
It goes on and on

Life can get you down so I just numb the way it feels
I drown it with a drink and out-of-date prescription pills
And all the ones that love me they just left me on the shelf
No farewell
So before I save someone else, I've got to save myself

I gave you all my energy and I took away your pain
'Cause human beings are destined to radiate or dream
What line do we stand upon 'cause from here looks the same?
And only scars remain
Life can get you down so I just numb the way it feels
I drown it with a drink and out-of-date prescription pills
And all the ones that love me they just left me on the shelf
No farewell
So before I save someone else, I've got to save myself

But if don't
Then I'll go back
To where I'm rescuing a stranger
Just because they needed saving just like that
Oh, I'm here again
Between the devil and the danger
But I guess it's just my nature
My dad was wrong
'Cause I'm not like my mum
'Cause she'd just smile and I'm complaining in a song
But it helps
So before I save someone else
I've got to save myself

Life can get you down so I just numb the way it feels
I drown it with a drink and out-of-date prescription pills
And all the ones that love me they just left me on the shelf
No farewell
So before I save someone else, I've got to save myself
And before I blame someone else, I've got to save myself
And before I love someone else, I've got to love myself

Ed Sheeran - Save Myself

Thursday, 9 November 2017

Tentang Kedewasaan

10 September
entah-kapan-waktu-ditulisnya.


kamu Beruyang
Beruyang: beruang kesayangan
ilustrasi manis dipinjam dari sini.
dewasa menjadi karakter yang selalu gw sebut
sejak diari hidup gw memaksa gw untuk mendefinisikan
hal apa yang penting yang harus ada di diri pasangan hidup gw.
akan tetapi ternyata gw pun hanya bisa merasakan
"oh ya, orang ini dewasa",
"ehm sepertinya yang itu tidak dewasa".
gw sendiri pada akhirnya bingung,
"jadi orang yang dewasa itu yang seperti apa?"
tadinya gw pikir orang yang dewasa itu
ditunjukkan dari kebijaksanaannya dalam mengambil keputusan.
tampak juga dari caranya bertutur kata yang hati-hati,
serta memiliki keyakinan yang tinggi terhadap diri
karena ia tahu betul apa yang ia inginkan.

semakin lama gw berinteraksi dengan Beruyang,
semakin gw mendapatkan pemahaman baru
tentang arti kedewasaan.

saat ini, buat gw
seseorang yang dewasa adalah orang yang
mampu mengelola sifat mementingkan diri sendiri.
disebut juga ego atau ke-aku-an istilah spiritualnya.

pengelolaan sifat mementingkan diri sendiri ini
tampaknya sederhana dan mudah untuk dilakukan.
pada kenyataannya tidak, karena untuk bisa self-less,
hal utama yang dibutuhkan adalah kesadaran diri (self-awareness).
hal lainnya yang dibutuhkan adalah kerendahan hati.

seseorang tidak cukup hanya sebatas menyadari
"oh ternyata ego gw tinggi",
tetapi untuk menjadi dewasa, ada kalanya kesadaran tersebut
harus dilanjutkan dengan sikap rendah hati, mau mengakui
"ternyata kelakuan gw yang mengutamakan diri sendiri ini
melukai orang lain".

beberapa indikator kedewasaan
yang gw pelajari sebagai hasil berinteraksi dengan Beruyang
antara lain sebagai berikut
bisa memperhitungkan perasaan orang lain (ketika membuat keputusan).
gw terbiasa membuat keputusan hanya dengan pertimbangan
akankah gw menyukai keputusan tersebut atau tidak.
yeah, tampak sekali ya betapa besar ego gw.

gw pun tidak jarang menyalahkan orang lain yang khawatir
dengan kemungkinan konsekuensi buruk yang gw alami
dari pilihan yang gw buat.

"ya salah Mama lah kenapa khawatir, aku aja ga khawatir."
"kalau kamu khawatir sama aku, itu artinya kamu yang perlu
mengelola kekhawatiran di kepala kamu itu. we are all
the prisoner of our mind."

keji memang kedengarannya.
dulu gw beranggapan bahwa apa yang dipikirkan atau dirasakan
seseorang terhadap gw, itu adalah urusan dirinya.
gw sama sekali tidak perlu bertanggungjawab untuk itu.
nyokap khawatir, ya salah dia kenapa parno-an.
Beruyang khawatir, ya salah dia kenapa ga percaya
dengan kemampuan gw membuat keputusan.

akan tetapi setelah gw sadari lagi,
pada kenyataannya gw turut bertanggungjawab atas apa
yang dirasakan oleh orang lain. gw perlu memperjuangkan
hal-hal yang bisa memberikan ketenangan bagi mereka.
sesungguhnya, orang menjadi khawatir itu karena kurang informasi.
menghilangkan rasa khawatir pada orang lain semudah berkomunikasi,
sesuatu yang seringkali gw anggap merepotkan.

iya, gw belajar untuk lebih terbiasa lagi berkomunikasi.
sesederhana memberi kabar yang berkaitan dengan keselamatan
seperti sudah sampai rumah, sudah makan, dan hal-hal mundane bagi gw
tapi ternyata itu penting untuk orang yang peduli dengan kesejahteraan gw.
bersedia mendengarkan pendapat orang lain hingga selesai, tanpa memotong.
entah gw harus bersyukur atau merasa terkutuk,
gw merasa cepat menangkap inti pesan yang disampaikan orang.
di satu sisi, orang mudah berkomunikasi sama gw karena mereka
tidak perlu menjelaskan suatu hal sampai printil-printilan,
gw udah bisa menangkap inti pembicaraan mereka.

di sisi lain, gw menjadi orang yang sangat tidak sabar.
orang belum selesai ngomong sampai selesai,
gw cenderung memotong dan mengklarifikasi pemahaman gw.
"jadi gini kan maksudnya? blablabla."

sebagian orang tertentu bisa terima gaya komunikasi gw yang demikian.
biasanya mereka yang tempo kerjanya cepat dan tergesa-gesa seperti gw.
sebagian lainnya seringkali merasa tersinggung dan gw pun jadi disrespect
sama mereka karena merasa omongan mereka yang panjang dan berulang
itu membosankan.
"lo ngomong A, B, gw udah menangkap mau lo sampai J,
mau ngomong apa lagi sih?"

terkadang gw frustrasi dengan kenyataan bahwa orang lebih senang
ngomong berpanjang-panjang, berulang-ulang, dan berputar-putar
daripada ngomong apa adanya, straight to the point.
gw frustrasi juga dengan kenyataan bahwa gw tidak cukup sabar
untuk bersedia mendengarkan omongan orang itu sampai selesai.
"ya mungkin dia butuh didengarkan," kalau kata seorang teman dari Bengkulu.

di poin pembelajaran ini gw sungguh menyadari,
sungguh dibutuhkan kerendahan hati untuk bersedia mendengarkan orang
berbicara tanpa memotong. Beruyang cukup handal melakukan hal ini.
dia bisa banget mendengarkan gw bicara berapi-api, mengumpat, dan memaki
ketika gw sedang tidak bersyukur atas kehidupan.
gw sampai terkadang merasa dia bisa muak sama omongan gw,
tapi kenyataannya dia belum muak meski sudah melalui 3 bulan
berkenalan dengan gw.

rasanya gw memang tidak cukup rendah hati.
ini tugas berat. harap bersabar ya manusia lain di sekitar gw.
bisa mengalah atau mengatakan maaf terlebih dahulu, meski bukan kesalahan dirinya.
kelakuan kayak gini biasanya gw lakukan duluan ke orang lain.
baru kali ini, sama Beruyang, dia yang melakukannya ke gw.
waktu itu kejadiannya sepele, gw ga menerima kelakukan dia
buka folder foto di HP gw tanpa keiklasan dari gw.
gw ga suka dengan kelakuannya karena gw merasa
itu hak gw untuk membolehkan dia melihat foto yang mana.
dia ga terima gw membatasi kebebasan dia, bahkan dia curiga
gw menyembunyikan sesuatu dari dia.

gengsi gw tinggi, lebih dari 28 ribu kaki di atas permukaan laut.
suatu konflik harus gw olah terlebih dulu, baru setelah gw merasa
cukup jernih melihat duduk perkaranya, gw bersedia minta maaf duluan
terlepas dari siapa yang salah.

kejadian dia secara sembarangan membuka galeri foto di HP gw
tidak sempat gw olah mendalam, sehingga sampai malam sepulang
kami bertemu, gw tidak meninggalkan pesan apapun padanya.
pagi hari gw lihat dia meninggalkan pesan bahwa dirinya sudah sampai di rumah
meski gw tidak memberinya pesan terlebih dahulu.

gw terenyuh, tidak percaya dia bisa melakukan hal itu.
setelah dikonfirmasi, dia mengakui kalau dibutuhkan kerendahan hati yang besar
untuk dia bisa melakukan hal tersebut (tetap mengabari meski tengah berkonflik).
dia juga sempat meminta maaf karena tidak seharusnya memaksa.
gw jadi merasa kekanakan karena 'bungkam mulut' paska konflik.
gw benar-benar merasa rusak sebagai manusia ketika berinteraksi sama dia.
tugas kehidupan gw kenapa jadi banyak ya...
bisa memahami sudut pandang lain.
hal paling menyenangkan dari berbicara dengan Beruyang adalah
kami bisa membicarakan apapun sebebas apapun.
ketawa canggung, perasaan bersalah dan malu, air mata,
mudah terlibatkan dalam percakapan kami.
hal yang menarik, setelahnya kami tetap merasa ingin berbicara
satu dengan yang lain. perasaan jera belum pernah muncul.

suatu hari gw pernah kecewa dengan kalimat yang gw dengar.
"aku enggak suka cewek nangis, nanti orang kira cowoknya brengsek".
dua hal muncul di pikiran gw saat itu
1. heck care sama isi pikiran orang lain! kenapa harus peduli.
2. bukannya ketika orang bisa menumpahkan air matanya
bersama orang lain, artinya orang itu percaya dan nyaman
dengan orang lain tersebut?

gw beberapa kali berusaha berargumen dengannya.
gw enggak terima kalau orang dekat gw memiliki keyakinan absurd
yang tidak masuk akal seperti itu.
dia mendengarkan argumen gw meski tetap bersikukuh bahwa tidak baik
dilihat orang jika perempuan menangis di muka umum.

akan tetapi suatu hari, dia bisa bilang sama gw (intinya)
"memang ternyata menangis itu menjadi cara seseorang
meluapkan perasaannya. tidak dengan kata-kata atau hal lainnya,
cukup dengan menangis".
Beruyang bisa menerima sudut pandang lain! *bahagia*

akhir kata,
dulu gw adalah pemuja kecerdasan.
kini gw murtad,
tidak ada yang lebih agung daripada kedewasaan.



ilustrasi dipinjam dari Melody Hansen.
hidayah tentang kedewasaan ini sangat diinspirasi oleh
tulisan Nikita Gill, kontributor Thought Catalog,
"You Should Date Someone Who Is Self Aware".
berikut gw terjemahkan dalam Bahasa Indonesia.

berpacaranlah dengan seseorang yang memiliki kesadaran diri
dan mengenali kelemahan dirinya.

mereka bisa menerima ketika disalahkan atas suatu situasi
meski sebenarnya mereka bisa melarikan diri.

mereka bisa menertawakan kesalahan masa lalunya
dan menarik pembelajaran dari situ.

mereka menyadari kelemahan diri dan mencoba memperbaiki diri
meski tahu bahwa mereka akan selalu tidak sempurna.

mereka bisa secara terbuka mendiskusikan kelemahan dirinya, menjadi rentan
tapi tidak khawatir akan dihakimi orang lain, mereka juga tidak peduli
jika kelemahannya akan digunakan orang lain untuk menjatuhkan mereka.

mereka menghargai dirinya dengan segala kekurangannya,
tidak jadi membenci dirinya melainkan menyadari hal itu adalah bagian
dari kepribadiannya.

manusia yang sadar diri adalah yang paling dewasa
dan mudah untuk menjalin relasi dengan mereka.
mereka bersedia mengakui kesalahan dirinya.
mereka tidak keras kepala tentang perilaku maaf-memaafkan
terlebih ketika mereka tahu mereka bersalah.
mereka tidak membiarkan pasangannya merasa bersalah
atas kekurangan diri mereka.

hal terpenting, mereka tidak merasa khawatir berlebihan
ketika orang lain menunjukkan kelemahan diri mereka,
karena mereka telah mengenal dirinya.
faktanya, orang yang sadar diri selalu siap dengan argumen
karena tidak ada hal yang bisa diserangkan pada mereka
terkait ketidaksadaran dirinya.
tidak ada hal yang bisa mengejutkan mereka, dan jika
ada sesuatu dari mereka yang dipermasalahkan orang, mereka sanggup
untuk menganalisis diri mereka dan menerima kesalahan.

orang yang sadar diri mengajarkan pasangannya bagaimana untuk
sadar diri juga, entah dilakukan secara sadar atau tidak.
mereka tahu mereka bukan orang suci dan tidak berusaha
untuk menjadi demikian.
mereka hanya tahu untuk tidak menebak-nebak diri mereka
karena mereka sungguh tahu jati dirinya.
dengan demikian, siapapun yang ada dalam hidup mereka
bisa turut belajar untuk yakin terhadap diri sendiri.


hal berikutnya setelah mengetahui kesadaran diri
(atau istilah lainnya self-awareness) dan tahu bahwa
sadar diri adalah hal yang penting dalam berelasi dengan orang lain,
berikutnya adalah cara bagaimana menjadi orang yang lebih sadar diri.

artikel ini gw baca tidak sengaja,
ditulis oleh Alice Alech dalam artikel berjudul
"The Importance of Self-Awareness in A Relationship"

proses menjadi sadar diri melibatkan kejujuran untuk melihat
cara diri berperilaku, menganalisis hal yang sudah baik sekaligus
hal yang perlu ditingkatkan.

sadar diri juga meliputi pengamatan yang cermat atas kerja pikiran
dan kenyamanan untuk menjadi diri sendiri.

hal yang sama pentingnya dengan kesadaran diri adalah keputusan
yang dibuat untuk menghadapi rasa tidak aman dan ketakutan.

jika kesadaran akan diri rendah, relasi dengan orang dekat memungkinkan
untuk mengalami gangguan.

sebaliknya, seseorang dengan kesadaran diri dapat memberikan
kepercayaan diri yang dibutuhkan dalam menjalin relasi yang sukses.

keputusan untuk mengenali diri sendiri adalah hal yang menantang
sekaligus menakutkan, namun perlu dilakukan karena hanya dengan
pengenalan diri yang kuat, seseorang dapat membangun
dan mengembangan harga diri yang sehat.

harga diri yang baik berarti seseorang merasa berharga dan mampu
menghormati dirinya sendiri. harga diri yang rendah menunjukkan
seseorang tidak cukup mencintai dirinya.

kesadaran diri dan harga diri cukup kuat hubungannya. seseorang tanpa
kesadaran diri kemungkinan besar memiliki harga diri yang rendah.

Harga Diri

perasaan bahwa diri berharga sangat dipengaruhi banyak hal,
termasuk lingkungan keluarga.
seseorang yang berasal dari latar belakang keluarga yang suportif
dan penuh cinta kasih, sangat mungkin memiliki harga diri yang baik.

akan tetapi tidak semua orang seberuntung itu. banyak orang berasal
dari keluarga yang meskipun sukses secara karir, namun anggota keluarga
tidak diperbolehkan untuk menggali perasaan, pikiran, dan kekhwatirannya.

hancurnya relasi dan pernikahan sangat sering terjadi akibat tidak adanya
kesadaran diri. pasangan yang tidak meluangkan waktu untuk mengidentifikasi
kekurangan di diri masing-masing sebagai cara untuk tumbuh bersama,
cenderung akan saling menyalahkan satu sama lain ketika hal buruk terjadi.

proses kesadaran diri tampak sukar dilakukan namun penting untuk relasi.

Perkembangan Diri

orang yang tahu titik lemah dirinya dapat mulai berusaha untuk memperbaiki
titik lemahnya tersebut.

tidak ada orang yang sempurna, sehingga dibutuhkan waktu dan komitmen serta
komunikasi dengan pasangan untuk mengakui kelemahan masing-masing
dan meminta maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan.

hasil dari proses ini akan memberikan kebahagiaan dan kepuasan.

Toleransi

pemahaman diri akan menyebabkan seseorang menjadi lebih toleran dan mudah
untuk menerima orang lain yang belum menyadari pentingnya kesadaran diri.

seseorang yang sadar diri menjadi lebih simpatik terhadap pasangannya,
menghargai perspektif orang lain, situasi orang tersebut dan perasaannya.
hal ini akan meningkatkan rasa kebersamaan dalam hubungan.

Fleksibilitas

janganlah menjadi seseorang yang selalu benar, namun cobalah untuk menjadi
pasangan yang bersikap memahami dan mencintai. pasangan akan dengan mudah
menghargai fleksibilitas tersebut dan kemauan untuk terbuka.

Kemudahan dalam Membuat Keputusan

pemahaman yang dalam tentang diri sendiri membuat seseorang mudah mengambil
keputusan dalam hidup percintaannya.

seseorang yang sadar diri dapat dengan berani meninggalkan suatu relasi jika ia menemukan
ketidakcocokan tujuan dalam diri pasangannya, serta ketika ia merasa relasinya buruk
dan tidak sehat untuk kesejahteraan dirinya.

seseorang yang sadar diri juga lebih asertif dalam berkomunikasi. dunia tidak akan runtuh
ketika pasangannya membuat keputusan untuk mengakhiri relasi.

antar orang mudah untuk saling menyalahkan satu sama lain karena seringkali mereka tidak
bersama-sama menempatkan pentingnya kesadaran diri dalam berelasi.

Latihan Kesadaran Diri

jika anda dan pasangan sedang dalam masa yang sulit, latihan kesadaran diri mungkin dapat
membantu untuk melihat kembali bagaimana cara kalian bersikap satu sama lain sekaligus
meninjau kembali tujuan jangka panjang.

latihan kesadaran diri yang baik adalah mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan berikut bersama:

  1. apakah kamu mampu menerima kritik?
  2. apakah kamu mampu mendengarkan kritik yang membangun, memikirkan hal tersebut, atau kamu membangun tembok pertahanan diri di sekitarmu?
  3. apakah kamu menganggap dirimu sempurna?
  4. apakah kamu memiliki kecenderungan untuk menghindari berhadapan dengan aspek negatif dari relasimu?
  5. apakah kamu berpegang pada apa yang kamu yakini?
  6. apakah kamu menerima bahwa orang lain disekitarmu bisa memiliki gagasan yang berbeda?
  7. apakah kamu nyaman sendirian?
  8. apakah kamu memiliki daftar tujuan pribadi, hal-hal yang ingin kamu raih?
  9. apakah kamu merasa punya hak untuk mengejar tujuan tersebut atau kamu merasa orang lain harus menjaga dirimu?
  10. apakah kesadaran diri membuatmu merasa tidak nyaman? apakah meskipun kenyataan menyakitimu, kamu masih ingin melanjutkan proses bertanya pada diri sendiri untuk empat pertanyaan berikut.
    • apa yang dapat aku tingkatkan dalam relasi ini?
    • apa yang menjadi 3 kekuatan terbesar dan 3 kelemahan terbesarku?
    • bagaimana kamu melihat relasi ini berkembang?
    • apa yang menghentikan hal tersebut untuk terjadi?
diskusi atas pertanyaan tersebut di atas dapat menciptakan relasi intim yang bermakna sekaligus
mengaktifkan mekanisme kesadaran diri.

diskusi bersama pasangan menjadi pendekatan yang lebih positif dibandingkan mengasumsikan salah seorang menjadi penyebab masalah dalam relasi.

pertanyaan di atas mungkin tidak dapat dijawab dengan segera dan membutuhkan waktu untuk memproses perasaan yang menyertai.

pahamilah bahwa kesadaran diri adalah berkah. kesadaran diri membuat seseorang bertangghung jawab atas suatu relasi dan dalam pembuatan keputusan.

seseorang yang memahami pentingnya kesadaran diri dapat memperoleh respek dan pemberdayaan.