Thursday, 18 August 2016

Si Peneliti dalam Penyamaran

"Stella?"
"Hm?"
"Kamu itu tahu banyak hal, dewasa, dan kritis. Saya tidak menyangka usiamu segitu."
"Gimana kamu tahu aku kayak gitu? Kita kan ga banyak interaksi."
"Saya hadir dalam rapat. Saya mengamati. Kamu tampak cuek, hanya sekilas melihat saya."
"Itu ga menunjukkan apa-apa deh kayaknya."
"Kamu tahu pepatah hanya jenius mengenal jenius? Cuma orang yang sering mengolah emas yang bisa dengan mudah menemukan emas diantara bebatuan."

Kutipan percakapan saat #RI71 (17/8/16)

Gw kaget. Sungguh gw kaget.
Baru kali ini dalam hidup gw, ada orang yang mengatakan secara sekaligus kalau gw punya
1. pengetahuan,
2. kedewasaan, dan
3. kekritisan.

Gw terkadang ketawa geli kalau dengar ada penilaian dari orang lain tentang diri gw seperti itu. Ketawa karena gw ga percaya gw bisa dinilai demikian sama orang lain. Well, tapi tenang ya, cuma sedikit orang kok yang bilang gw orangnya seperti tiga poin di atas. Hahaha.

Beberapa orang yang cukup mengenal gw biasanya bilang gw kritis. Iya, gw bawel dan banyak nanya ketika gw dalam suasana hati yang baik. Jarang banget ada yang bilang pengetahuan gw banyak. Kembali lagi karena gw banyak nanya dan biasa pertanyaan gw enggak penting. Hampir ga pernah ada yang bilang gw dewasa. Yeah, gw tumbuh besar dalam keluarga yang sangat memberikan rasa aman dan nyaman sehingga gw jauh dari kata dewasa.

Uniknya, ada satu orang ini yang bisa memberikan ketiga penilaian tersebut sekaligus ke gw padahal kami kenal kurang dari satu minggu. Seketika itu juga gw bisa merasakan bahwa dia bukan orang pada umumnya.


Pertemuan kami berawal dari sebuah rapat di hari Sabtu, hari manusia umumnya berubah jadi mayat di atas tempat tidur. Saat itu gw sangat enggan untuk hadir karena gw tahu akan ada peliputan. Gw ga suka publisitas. Satu-satunya alasan kenapa akhirnya gw hadir adalah gw tahu cuma sedikit orang yang datang rapat.

Singkat cerita, kehadiran gw dalam rapat membuat gw bisa keambil untuk jadi salah satu narasumber. Entah apa yang menjadi pertimbangan pemilihan narasumber waktu itu, mungkin wartawan itu butuh narasumber yang bisa kasih respon sesuka-sukanya.

Gw ditanya-tanya pertanyaan standar seperti
gimana cara dulu bisa bergabung menjadi sukarelawan,
apa kegiatan sehari-hari,
kenapa mau buang waktu ga dibayar,
dan sebagainya.

Gw jawab semuanya apa adanya dan terakhir wartawan tersebut meminta nomor kontak gw, jaga-jaga jika dibutuhkan data tambahan.

Besoknya, wartawan itu menanyakan apakah gw datang ke studio rekaman dan karena gw ga lagi di sana, dia menanyakan jadwal rekaman gw. Menurut gw, pertanyaannya ini ga relevan dengan kebutuhan liputan, tapi gw menanggapi karena gw ga tahu juga data apa saja yang dibutuhkan seorang wartawan untuk bisa menghasilkan sebuah liputan yang baik.

Besoknya lagi, wartawan itu kembali mengontak. Kali ini meminta data diri gw:
nama lengkap,
usia,
pekerjaan,
pendidikan,
hobi, dll.

Ga cuma itu, dia juga minta dokumentasi kegiatan. Berhubung gw ga punya banyak, maka gw cari-cari dulu. Gw berusaha supaya liputan yang nanti dihasilkan enggak buruk karena gw tahu majalah tempat wartawan ini mengabdi adalah majalah non-populer yang gw sendiri malas baca.

Besoknya lagi, gw kirim foto-foto yang berhasil gw kumpulkan. Foto-foto yang gw kirim adalah foto orang lain dan foto yang ada gw-nya adalah foto yang beramai-ramai dengan sukarelawan lain. Gw ditanya kenapa foto gw kecil dan gw kembali berpikir "apakah pertanyaan ini relevan dengan kebutuhan liputan?".

Ga lama setelah gw bertanya-tanya dalam hati, wartawan itu menelepon gw.

Gw agak kaget ditelepon, karena
1. Enggak cukup ya diketik aja di WhatsApp?
2. Apa lagi yang dibutuhin sampai perlu nelepon?
3. Genting banget ya kebutuhannya sampai nelepon?

Iya, gw suka mikir berlebihan kalau ditelepon orang, karena
1. Ga umum untuk manusia milenial berkegiatan telepon-teleponan.
2. Gw nyaman dengan mengetik daripada ngomong di telepon yang memaksa orang untuk memberi respon langsung.
3. Selama ini orang telepon gw karena urusan genting aja.

Ga cuma kaget karena ditelepon, gw kaget karena wartawan ini tahu gw lagi dalam perjalanan pulang ke rumah, latar belakang gw berisik, dan dia enggak peduli. Dia bilang dia nelepon untuk menemani perjalanan pulang gw. Seumur hidup gw, baru kali ini gw nanggepin telepon orang di jalan, ketika gw tidak sedang berkendaraan pribadi.

Awalnya gw pikir data wawancara gw waktu itu masih kurang, tapi lama-lama pertanyaan dan pembahasan yang disampaikan wartawan ini semakin jauh dari kepentingan liputan. Gw berpikir, apa yang sedang dilakukan wartawan ini.

Satu jam berlalu tanpa terasa, gw yang awalnya penuh kebingungan dengan telepon dadakan yang terjadi, pelan-pelan memahami bahwa wartawan ini punya tujuan lain dengan mengontak gw melalui telepon. Gw senang dengan percakapan yang terjadi. Wartawan ini berhasil membuat gw mau menanggapi segala omongannya bahkan membuat gw mau berusaha untuk berdiskusi sampai berdebat tentang perbedaan "memberikan waktu" dengan "memberikan perhatian".

Hari besoknya kita bicara lebih lama daripada hari kemarin. Gw ga bisa bohong, gw senang. Sebegitu senangnya gw dengan percakapan kita hingga gw memutuskan untuk menuliskan pengalaman ini di sini. Hanya beberapa orang yang bisa membuat gw mau bercakap-cakap dalam waktu panjang tanpa gw merasa bosan. Ya, gw memang bawel dan bisa bahas apapun ke dalam obrolan dengan siapapun, tapi itu bukan berarti gw ga merasa bosan.

Gw bisa bosan dan tetap melanjutkan obrolan karena gw menghargai orang yang butuh ngomong sama gw.

Pengecualian terjadi ketika gw ngobrol berjam-jam bersama wartawan satu ini. Entah bagaimana caranya dia dengan segala pengetahuan dan kemampuan berpikir abstraknya, gw merasa senang berbincang bersama dia. Gw terbiasa berdiskusi sejak kuliah. Akan tetapi, teman-teman diskusi yang biasa membuat kelas gw menjadi menarik, entah di mana keberadaannya sekarang. Gw sangat merindukan momen gw mengalami mindgasm itu dan gw rasa gw cukup merasakannya ketika gw berbicara dengan "Kakak" wartawan ini.

Gw merasa bersalah dengan pulsa yang dia habiskan untuk menelepon gw. Well, tapi sebagaimana yang dia katakan, gw tidak punya hak apapun untuk mengatur bagaimana cara dia menghabiskan pulsa. Okay then, kalau begitu, terima kasih ya "Kak" wartawan, karena sudah memberikan pengalaman bercakap-cakap yang gw rindukan.

Iya, Bahasa Indonesia kamu yang paling benar.
Iya, semua batu di kampung halamanmu beragama Katolik.
Iya, tulisan kamu bagus.
Iya, iya, iya, untuk semua hal yang kamu banggakan.

Gimana, pengakuan di atas sudah cukup memenuhi kebutuhanmu, "Kak"? Hahaha.
Yup, aku satir, sama kayak kamu.
Biasakan dengan hal itu ya.

kutipan ditemukan dari sini

Tuesday, 16 August 2016

Iman Itu Keyakinan

Bicara tentang iman berkaitan kuat dengan perbincangan tentang agama.
Menurut gw, tidak demikian.

Iman itu keyakinan dan ketika bicara tentang keyakinan,
tentu pembahasannya bisa sangat luas.
Bahasan semacam "kamu yakin ga lapar?",
kemudian "kamu yakin manusia itu lahir dengan sepuluh jari?",
sampai ke "kamu yakin ga kalau Tuhan itu ada?"
adalah sebagian kecil dari keseluruhan bahan pertanyaan
yang bisa diajukan untuk menanyakan keyakinan seseorang terhadap suatu hal.

Manusia itu pada dasarnya makluk empiris,
apa-apa mesti berdasarkan pengalaman, data, atau informasi yang konkret.
Pertanyaan "kamu yakin ga lapar?"
akan lebih mudah dijawab kalau kondisi perut seseorang
sungguh sedang keroncongan dibanding ketika kondisi perut
sudah diisi makanan 2 jam sebelum pertanyaan tersebut muncul.
Pertanyaan "kamu yakin manusia lahir dengan sepuluh jari?"
akan mudah dijawab kalau orang tersebut
pernah melihat janin memiliki sepuluh jari.
Itulah sebabnya pertanyaan yang sifatnya abstrak seperti
"kamu yakin ga kalau Tuhan itu ada?"
senantiasa selalu menjadi perdebatan karena
setiap orang punya pengalaman empiris yang berbeda
dengan figur Tuhan. yang intangible.

Mereka yang tidak pernah merasa punya pengalaman bertemu Tuhan,
akan meyakini bahwa Tuhan itu tidak ada. Begitu pun sebaliknya.
Tidak mengherankan ada perbedaan keyakinan akan Tuhan versi masing-masing orang
karena pengalaman manusia dengan Tuhan adalah pengalaman unik dan personal.

Sifat pertanyaan "kamu yakin ga kalau Tuhan itu ada?"
sebenarnya secara esensi serupa dengan pertanyaan "kamu yakin ga lapar?".
Jawaban dari kedua pertanyaan itu sangatlah bergantung
dari kondisi si penjawab dan si penanya hanya akan bisa menerima jawaban
tanpa bisa maksa.
Tidak masuk akal jika ada orang yang beranggapan,
"orang seharusnya beragama Kristen karena yakin Tuhan itu maha baik".
Keberadaan agama dan keyakinan tidak selalu bersamaan dalam diri seseorang.


Jika seseorang tidak yakin, mustahil orang tersebut bisa engage
dalam suatu ritual keagamaannya.
Sederhananya, mereka yang yakin bahwa batu di sungai membawa keselamatan,
ya tentu yang akan mereka lakukan adalah memuja dan menyembah batu tersebut.
Karena itu yang mereka yakini, itu adalah iman mereka.
Begitu pun juga dengan mereka yang yakin bahwa agamanya membawa keselamatan.
Mereka akan melakukan hal-hal yang merupakan ajaran dari agamanya.
Kembali lagi karena itu yang mereka yakini, itu yang mereka imani.

Jadi bingung kan agama itu buat apa. Beneran candu doang ya sepertinya.
Tapi balik lagi ke urusan iman sih,
seberapa seseorang yakin agama itu candu dan bukan sarana menuju keselamatan.

Ya ya, keyakinan memang pada hakikatnya mustahil untuk dipaksakan.

you can lead a donkey to a river
but can't make him drink the water  -Haitian proverb