Sunday, 13 May 2018

Seandainya Aku Menghubungi Kamu

Maxx Coffee. Semanggi.
12 Mei 2018. 0400 PM.
halo?

kenapa Stel?

seumur-umur kamu kenalan sama orang
dan sebanyak-banyaknya mantan kamu,
kamu pernah ga, ada di hubungan nearly in relationship?

kayaknya belum, ada apa?

kalau enggak pernah, kamu akan susah paham cerita aku.

ada apa?

dia balik lagi.

kok bisa?

aku muak setiap tahun pasti ada sekali atau dua kali
dikirimkan chat dengan konten yang sama.
kalau memang ada yang perlu dibahas supaya selesai,
marilah dituntaskan.

konten chat yang sama.
terus gimana?

dua hari kemudian setelah konten chat kurang kreatif itu dia kirim,
dia chat aku, minta2 maaf dan mengaku dalam kondisi mabuk.
aku merasa tersinggung loh di-text orang dalam keadaan tidak sadar.
it feels like he had lost his dignity and I am his object of his inappropriate behavior.

kamu sedih?

aku bingung bagaimana harus menyikapi perilaku kekanakan seperti ini.

kemudian apa yang kamu lakukan?

kebetulan besoknya aku ada acara di kampus, sharing alumni.
aku tahu kos dia dekat kampus jadinya aku kasih tahu dia
kalau ada hal yang ingin dibahas, aku bisa dijangkau setelah acara aku selesai.

jadi, kalian kemarin bertemu?

iya, setelah hampir 3 tahun kami tidak pernah bertemu.

dia masih seperti itu?

persis sama. bedanya sekarang, dia lebih berusaha sentuh-sentuh.

apa yang kalian bahas?

pertama aku tanya maksud ritual tahunannya apa.
kedua aku tanya kenapa dia melanggar kata-katanya sendiri
yang bilang ga mau ganggu atau kontak-kontak aku lagi.
ketiga aku tanya mau dia apa.

dijawab dengan baik?

well, iya dijawab tapi berhiaskan tingkah non-verbal menyebalkan.
garuk-garuk lah sambil nguap, ngulet, buang muka,
minta jeda merokok, dan sebagainya.
aku mengabaikan. aku ceritanya kenal dia kekanakan.

gimana tanggapan kamu atas jawabannya?

berusaha percaya.

jadi menurut kamu dia pembual?

bukan pembual, tapi bukan manusia yang bisa dipegang kata-katanya.
bahkan pas aku tanya "kenapa bilang engak akan kontak lagi
tapi sekarang masih kontak juga?", dia jawab "itu gw yang dulu".
seolah-olah menurut dia, manusia tidak punya kepribadian.

kan enggak semua orang ambil S1 psikologi kayak kamu.

bukan berarti naif juga lah, menganggap manusia mudah berubah.
apalagi untuk kepribadian yang berkaitan sama prinsip hidup kayak gitu.

kesel ya pas denger?

aku bahkan sampai bingung mau merasa apa saat itu.
bingung banget kok bisa ya manusia ini sebegitu... rendah?

rendah?

iya, enggak punya kualitas.
aku sulit menalar gimana cara orang bisa jual ajakan untuk
menjalin hubungan yang serius, tapi punya rekam jejak
unfaithful terhadap kata-katanya sendiri.
pembeli macam apa yang berniat beli barang jualan tanpa kualitas begitu?

kamu pasti kacau balau saat itu,
konsep kamu tentang manusia sedang diuji.

iya, selama ini aku percaya kalau manusia, well, laki-laki
lebih mengurusi pride daripada perempuan. begitu ketemu yang begini,
aku langsung bingung. this is beyond what I know. hahaha.

sangat Stella ya.

iya, Bear. terima kasih ya.
terima kasih untuk pengalaman kita
di mana kamu belum pernah menyinggung aku.
menyinggung yang tingkatannya eksistensial gini.
selesai kami bertemu kemarin, aku jadi menduga-duga
apa yang ada di pikiran orang itu sehingga dia berani
berlaku rendah gitu sama aku.

kamu tahu kamu berharga dan
tolong janji untuk intoleran sama mereka yang merendahkan kamu.

selain berjanji untuk pacaran serius sama manusia se-etnis,
sekarang aku harus buat janji baru lagi sama kamu?
iya, iya, aku janji.

aku harap kamu enggak jadi kangen sama kita.

aku benar-benar berharap kamu ada di sebelah aku loh saat itu!
saat dia mengajukan gagasan untuk kami berelasi serius,
kemudian berjanji akan stay. kamu ada di pikiran aku jelas banget.
aku bahkan jelasin ke dia, saat ini kalau aku mengiyakan ajakan
untuk berelasi serius dengan orang lain, itu hanya akan jadi sarana distraksi
biar aku berhenti kangen kamu, Bear.

hahaha, kamu lagi mabuk ya?

hahaha. I do really miss us.
sialnya, setiap kali begitu, aku ingat ini.

kita enggak perlu berpacaran untuk bisa bicara kayak gini kok.
aku kan sudah dapat restu kamu untuk tetap jadi konselor pribadi.

iya, aku tahu Bear.

sekarang sudah lebih baik?

sangat jauh lebih baik daripada 9 jam siksaan kemarin.

kamu kemarin kesiksa 9 jam?

iya, aku berusaha banget memahami cara berpikir orang itu.
aku sampai nge-twit gini.

orang suka lupa ketika suatu momen menjadi kenangan,
saat itu juga momen tersebut abadi, lepas dari konteks waktu.
di sisi lain, kehidupan nyata terus bergulir, berubah secara dinamis.
menggunakan kenangan sebagai rujukan
untuk mengulangi suatu hal, adalah sebuah kesalahan.
kamu mikir apa sampai bisa nge-twit gitu?

aku nanya ke dia, apa yang bikin dia merasa kalau aku
akan mau diajak berelasi serius, mengulang segalanya dari awal.
karena pada kenyataannya yang dia kangen bukan aku
tapi kenangan dia tentang aku. persis seperti bagaimana aku kangen kamu.
dia jawab aku, "maybe you want to re-make the memories".

kamu enggak berminat?

satu dua detik aku rasa minat itu ada. menarik juga ajakannya, toh aku butuh distraksi.
tapi saat itu juga aku sadar, rujukan dia itu kan masa lalu.
berapa tahun yang lalu mungkin aku Stella yang ada di kepalanya.
sekarang aku bukan Stella yang itu, Stella yang dia harapkan.
aku percaya aku bukan lagi Stella yang dia kenal beberapa tahun lalu.

gaya kamu...

hahaha, beneran. aku belajar banyak dari perjumpaan kita, Bear.

akhirnya setelah berpikir banyak, kamu ketemu suatu pemahaman baru?

nihil. karena aku hanya berusaha
mencari pemahaman perilaku yang positif.

dengan kata lain, kamu cuma dapat hipotesis negatif
untuk menjelaskan perilakunya orang itu?

iya. jaring pengaman, suku cadang, mainan, call it what you want.

gimana perasaan kamu sekarang?

dua hal yang aku rasakan.
satu, puas terhadap pencapaian diri sendiri.
aku tidak jatuh iba dan mengiyakan ide buruk orang itu.
dua, merasa terkutuk karena kenal kamu. hahaha.
so far, you are the best romantic experience I have had, Bear.
kamu membuat aku sulit mendapat perlakuan buruk dari orang lain
karena kamu memperlakukan aku dengan baik.

anak lebay. kamu bakal ketemu yang lebih baik.

kamu juga kuharap mengalami hal yang sama.

kamu bergumam lagu apa?

Jar of Heart.

hahaha, baper seperti biasanya.

aku kalau enggak baper kamu malah perlu khawatir loh.
sehabis cerita gini, aku jadi ngantuk. aku mau tidur ya.

sleep tight, Mbul.

kamu hati-hati di jalan pulang, Bear.
terima kasih banyak ya konselor pribadi.
kamu ter.ba.ik!

unch!

percakapan imajiner itu tidak akan pernah terjadi, anyway.
nyali gw belum cukup besar untuk menghubungi dia, meski rasanya semalam
gw sangat ingin menelepon orang untuk 'muntah'.
bahkan gw sempat berpikir untuk menelepon kakak gw
yang lagi berjuang dengan studinya di negeri orang.
lucky him to have such a considerate sister, gw putuskan
untuk tidak menghubunginya dan akhirnya merasa cukup
dengan berceloteh panjang lebar via teks kepada diari hidup gw.

tampaknya gw semakin hebat dalam menahan diri untuk
tidak sembarangan menjangkau orang. tidak semua orang berbahagia
untuk terusik dengan urusan receh unfaedah milik orang lain.
well, meski untuk urusan menahan BAB gw belum sebaik ini.

di saat lingkaran pergaulan gw semuanya sedang terperangah
dengan tindak anti kemanusiaan yang terjadi pagi ini,
berupa bom bunuh diri di Surabaya,
gw di sisi lain sibuk dengan dunia gw sendiri.

tingkat kebaperan gw sudah semakin sulit ditolerir sepertinya.
gw harus mengalokasikan waktu dan energi gw pada hal yang lebih berguna
daripada sekedar mempedulikan tindak tanduk kurang bertanggungjawab
dari para manusia setengah binatang.

#PertobatanStella #MariMenulisHalBerkualitas

Monday, 7 May 2018

New Type of Person Unlocked

image borrowed from here.
it's funny to reflect, how He grants me things I want
even those unspoken stupid wishes, like my curiosity to have some specific friends.

throughout my life, I've been wondering how it feels to have a friend
with specific skill or interest, such as
1. an illustrator
2. a journalist
3. a chef
4. a photographer
5. a sociologist/urban planner

I love meeting people, esp. those with different background from me.
diversities is mesmerizing, particularly idiosyncrasies in faith to race,
from political belief to perspective of life.
encounters with people who have mastered the skill is always pleasing for me.
I've befriended with two illustrators, the real one is Kanya and the other one is Mogri.
I've met a journalist, we hanged out twice.
I've met a chef, my cousin. he's unlike those cool chefs I've seen on TV.
I think I have too high expectation.
I've met photographers, well despite there are many people
called them selves as a photographer nowadays, I believe real photographers
have their own perspective to see the world.
photographers I know widely varied, from those who only cares about lenses
to those who are truly a street photographer.

the last one is the rarest one.
I've known a cool teacher of sociology class during my senior high school.
unfortunately, he is a not a friendly although he is a chatty person.
it's hard to make time with him outside class room.
the other one is a sociology lecturer in my college.
I keep contact with her until now, but it's not easy for me to be her friend.
her work and family keep her occupied. we only meet in professional setting.

I always love social psychology, the branch of psychology that deals with
social interactions, incl. their origins and their effects on the individual (see here).
when I was in college, it was fascinating for me to know how the design
of a city highly impact the behavior of its people.
I enjoy to know the 'why' of certain things which I previously taken for granted.
like why the intersections should be marked with yellow paint,
why some public ads should be put in certain spots,
why the government turns TransJakarta payment into cashless, and stuffs.
urban development and its impact to its citizen are two things I find appealing.

the fact is, I rarely meet people with architecture background or urban planning job.
not only because I don't have such opportunity to expose myself
in a field which related with urban development, but also
it is because I don't have such network.
luckily, three weeks ago I knew this polite widower
who turns out working as an urban planner urban designer. woot!

I tend to be enthusiastic to know someone who has deep knowledge about specific thing
rather than meet someone who knows many things.
that's why I got braingasm to read his blog. I crave to meet this kind of guy!
unfortunately, he is a widower with one kid and he has no plan to be involved
in any teenage love story. ah, so sad.

this kind of habitual 'wrong' encounters makes me reflect about the nature of myself.
I called it 'wrong' because it feels happy to interact with them yet I know
it was just a waste of time and energy since our interaction won't lead to anything serious.
the very first one was with the journalist.
the second one was with a pork-eater moslem.
the last one was with a widower.
all of them were able to give me that mindgasm sort of thing,
since they all know many things I always wish I can discuss freely with other people.
they are all a good partner to talk to. I can say any kind of stuffs like culture, religions,
communal and economics behavior, politics, even sex talk!
unfortunately, my adoration towards them didn't go hand in hand
with the possibility to bound in romantic relationship.

they would be just another smart-ass guys I love to talk to.
nothing more, nothing less. this might sound "no problem" unless
I never thought about marriage. regrettably, to be with someone till death do us part
is something I'd like to happen for once in my life.

then it comes to me, the idea of turning myself into one.
why don't I learn more, read more, and write more so I become more resemble to those,
the people who always attract me closer.
thus I can hang around with myself, and by doing so,
I can minimize the chance to hang out with 'wrong' people
and stop fooling around with my sentimental feelings. phew.

#HowToSaveYourself