Friday, 8 August 2014

Stella (di)Lulus(kan) Sidang Sarjana Psikologi

Proses Sidang

coretan di huruf KRI dalam kata tersebut
sungguh memiliki makna yang dalam :')
gw berkaca-kaca dan dipenuhi rasa haru
ketika gw mendapatkan fakta
bahwa pada ujian sidang hari Rabu, tgl 6 Agustus lalu,
gw diluluskan oleh para dosen penguji.

para penguji dengan baik hati dan dengan cara menyenangkan
memberikan masukan dan mengajukan pertanyaan.
proses sidang berjalan dengan cukup menyenangkan,
bahkan ada saat-saat di mana gw bisa menertawakan kebodohan gw
dalam ruang sidang tersebut.
hal yang menyenangkan ketika sidang:
gw bisa menjadi diri gw seadanya dan sejujur-jujurnya.

tujuan pertanyaan dan masukan dalam sidang
yang disampaikan penguji
semata-mata adalah demi perbaikan karya tulis gw
sehingga kelak di masa depan
gw sendiri dapat mempertanggungjawabkan
hasil penelitian gw (yang sekaligus prasyarat mendapat gelar sarjana) itu.

para penguji gw sungguh memberikan insight
dan penyadaran akan kekurangan penelitian gw.
gw salut pada kemampuan mereka dalam menyidang.
gw sedikitpun tidak merasa bahwa para penguji
sedang merendahkan kemampuan berpikir
ataupun kemampuan menulis gw.
mereka hanya sedang berusaha untuk membangun
pemahaman mengenai konsep penelitian yang kuat
dalam benak mahasiswa yang disidang.
gw benar-benar merasa dihargai,
tidak hanya sebagai mahasiswa yang sedang menimba ilmu,
tetapi juga sebagai manusia seutuhnya,
dengan segala kekurangan dan kekacauan berpikir logisnya :')

gw dengan para manusia baik hati
yang penuh dengan kebijaksanaan ilmu pengetahuan.
Tuhan selalu memberkatimu, Mas dan Mba ~

tidak ada hal lain yang gw rasakan selain rasa haru,
paska proses sidang berlangsung.
sulit bagi gw saat itu untuk mencerna kenyataan bahwa gw baru saja
dinyatakan lulus sidang sarjana oleh Mas Danny,
ketua sidang penguji gw.

berikut adalah dialog yang gw ingat
yang terjadi setelah dilangsungkan proses diskusi
antar dosen penguji dan dosen pembimbing
untuk menentukan apakah gw diperbolehkan lulus sidang atau tidak.

Pembimbing (P): Stella, ayo kembali ke ruangan, mau pengumuman. Mana yang lain?
Gw: Yang lain? Yang lain dengerin pengumumannya juga, Mba?
P: Iya yang lain juga harus dengar pengumumannya.
Gw: Ga usah deh Mba, saya aja... *sambil jalan ke ruangan sidang*
Penguji 1 (P1): Mana yang lain?
P: Dia bilang pengumumannya dia aja yang dengar.
P1: Oh begitu. Jadi, Stella, silahkan duduk.
Gw: *duduk*
P1: Menurut kamu, kamu berhak lulus atau tidak?
Gw: Uhm... Enggak tahu, Mas...
P1: Hahaha, enggak tahu. Ya sudah, pertanyaannya diganti, kamu mau lulus atau tidak?
Gw: Maaaauuu Mas.
P1: Hahaha, tapi saya mau tahu kenapa selama sidang kamu tidak melihat ke pembimbing?
Gw: Hah? Iya Mas? Iya Mba, saya enggak lihat ke Mba? *memandangi pembimbing*
P1: Kamu pertama-tama lihat teman-teman, terus Mba Ocha, saya, terus ga lihat pembimbing.
Gw: Ah iya ya, Mas? Saya enggak sadar. Maaf ya Mba *memandangi pembimbing dengan bersalah*
P1: Selamat ya Stella, kamu lulus, tapi lihat ke pembimbing ya kalau presentasi *mengulurkan tangan*
Gw: *merasa bersalah* Iya, Mas... *menyambut uluran tangan*
Penguji 2: Selamat ya
Gw: Iya, Mba, terima kasih. Tapi ini saya benar lulus ya?
Penguji Kepribadian: Hahaha, dia masih enggak percaya lulus.
dan di saat itu, entah para teman-teman gw tahu darimana,
mereka semua berhamburan masuk untuk memberikan ucapan selamat,
yang sampai saat ini membuat gw merasa bahwa gw adalah manusia
yang paling dicintai di dunia ini.
terima kasih dosen2 pembimbingku tersayang.
terima kasih para dosen pengujiku terkasih.
terima kasih para teman-temanku tercinta.
terima kasih.
mungkin terkesan menyeramkan untuk memiliki
dosen pembimbing akademik (PA) sekaligus wakil dekan I.
tapi kenyatannya kehidupan akademis gw sangat terbantu
dengan kehadiran seorang PA super seperti beliau.
gw banyak dibantu untuk menyadari berbagai hal dalam hidup,
dari prioritas hidup, values, sampai penerimaan diri.
THANKS A LOT MBA :*
Sarah-Marlin-Donna
para teman-teman seperjuangan gw di peminatan psikologi sosial.
kami sungguh2 berjuang bersama
karena kami mengerjakan tugas kelompok bersama2~
cheese cupcake, how thoughtful :')
mereka ingat gw tidak bisa makan cokelat.
Becky, seorang senior, mengucapkan selamat via WhatsApp
dan ia mengirimkan screenshot ini ke gw :')
terima kasih Donna, my dearest social mate *terharu*
Cindy-Nessia-Jeje-Grace-Prima-Momo
tanpa kehadiran kalian dalam 4 tahun kehidupan perkuliahan gw,
sepertinya gw tidak akan bertahan hingga saat ini.
semua tawa, tekanan, dan kesenangan yang kita bagi bersama
akan tersimpan rapi dalam ingatan gw.

mereka menyiapkan kaos untuk dipakai teman yang lulus sidang.
terima kasih banyak Prima untuk desain kaosnya yang bagus dan detil.
selesai lulus sidang, Cindy dan Nessia
mentraktir dalam rangka ulang tahun.
traktiran yang menyenangkan sekali :)


Kilas Balik

sampai dengan saat ini,
gw butuh waktu untuk meyakini bahwa
apa yang disampaikan Mas Danny merupakan fakta,
mengingat proses sidang berhasil membuat gw berpersepsi
bahwa penelitian yang gw buat adalah kekacauan besar.
gw bahkan sempat ada di titik di mana
gw sudah rela jika gw kelak tidak diluluskan.
menurut gw, kekurangan-kekurangan penelitian gw
merupakan kekurangan mayor
yang dapat diperbaiki dengan cara
mengulangi proses penelitiannya dan proses pelaporannya.

gw butuh waktu untuk menyatukan dua hal.
pertama, kenyataan bahwa laporan penelitian gw kacau.
selain berantakan dalam penyampaian gagasan secara tertulis,
gw pun menemukan bahwa gw kurang mempunyai pemahaman yang kuat
mengenai metode penelitian yang gw gunakan.

proses menulis dan mengingat yang gw lakukan ini
membantu gw mendapatkan kesadaran
atas segala momen urusan sidang yang gw telah dilalui.
karena proses persiapannya yang cukup kilat,
kurang lebih hanya seminggu,
gw sampai kurang menyadari apa saja
yang sudah gw jalani hingga akhirnya gw dinyatakan
lulus sidang sarjana.

posting blog gw sebelumnya membahas
bagaimana gw berproses utk menyelesaikan skripsi.
di sini gw akan membahas proses gw menyiapkan sidang.
ketika gw mengingat ulang proses persiapan sidang,
gw menjadi sadar akan betapa banyaknya berkat
dalam hidup gw dan betapa gw dikelilingi oleh
orang-orang yang peduli dengan gw :')

pertama-tama gw beri tahu gambarannya terlebih dahulu.
tgl 21 Juli, gw mengumpulkan skripsi ke sekretariat
dengan mendaftarkan bentuk sidang gw tertutup.
tapi, segalanya berubah di saat gw bertemu dengan
beberapa orang di sekretariat fakultas gw.

  1. Mba Anna, staf sekretariat yang banyak gw repotkan dengan segala pertanyaan gw tentang sidang dan berkas2 pengumpulan skripsi. saat hari H pendaftaran sidang, Mba Anna yang banyak membantu gw ini yang pertama kali mempersuasi gw untuk mengubah sidang gw yang awalnya tertutup menjadi terbuka. Mba Anna bilang sidang terbuka menjadi kesempatan berbuat baik, menjadi media pembelajaran untuk teman-teman lain. tanpa perlu menunggu jawaban dari gw, Mba Anna langsung memberikan selembar form sidang terbuka, tempat gw bisa menuliskan siapa saja yang akan gw undang untuk hadir dalam sidang tersebut.
  2. Mas Ferdi, salah seorang dosen yang gw senangi karena ketika berinteraksi dengannya, gw sering mendapat banyak inspirasi dan pembelajaran. Mas Ferdi bahkan di saat bertemu langsung menanyakan bagaimana persiapan sidang terbuka gw, sehingga membuat gw kembali memikirkan ulang format sidang gw. Mas Ferdi juga bilang bahkan ketika seumpama gw gagal dalam sidang, kegagalan tersebut tetap memberikan kebaikan bagi lingkungan, jadi jangan terlalu cemas dengan menjalani sidang terbuka.
  3. Bu Lidia, dosen klinis yang tidak pernah mengajar gw tapi gw tahu bahwa Bu Lidia adalah dosen yang sangat baik dan sangat peduli dengan kesejahteraan mahasiswa. Bu Lidia turut mengafirmasi pendapat Mas Ferdi bahwa gw sebaiknya mengambil bentuk sidang terbuka dan Bu Lidia yakin gw bisa melaluinya. gw kembali berpikir.
  4. Edwin, teman sefakultas yang gw kenal baik akibat kesamaan tempat magang dan kami dibimbing oleh dosen pembimbing yang sama. waktu itu dia lagi ada di sekretariat dan menyadarkan gw akan adanya keinginan gw sejak awal untuk mengadakan sidang terbuka karena pada awalnya gw mau penelitian gw memberikan tambahan pengetahuan bagi orang lain. gw ingat perkataan Edwin yang tumben-tumbenan berefek memberi ketenangan dan bukan kekesalan.
    "sidang itu memang menakutkan, tapi gw selalu mengingatkan diri gw
    kalau sidang sarjana itu cuman jadi salah satu momen dalam hidup lw
    dari berbagai momen-momen hidup lw lainnya."
  5. Arnold, teman sefakultas dan satu peminatan yang banyak memberikan umpan balik mengenai diri gw dengan apa adanya. gw suka ketika kami mulai membahas tentang cara kami masing-masing memandang dunia, karena Arnold selalu menyampaikan pendapatnya dengan apa adanya tanpa menyinggung cara pandang gw. sebagai teman diskusi yang menyenangkan, Arnold memberikan pandangan ke gw bahwa sidang terbuka banyak manfaatnya dan ia pun akan memilih sidang terbuka kelak.
  6. Mba Angel, dosen pembimbing skripsi yang sangat baik hati dan tidak membuat judgement terhadap mahasiswa bimbingannya. ketika gw meminta pendapat Mba Angel tentang pertimbangan gw untuk membuat sidang gw menjadi terbuka, Mba Angel seutuhnya membebaskan hal itu ke gw dan sama sekali dirinya tidak merasa hal itu akan menjadi beban karena performa gw saat sidang dan hasil sidang benar-benar bersangkutan sama gw. sidang terbuka oke, tertutup juga ga masalah. gw semakin mengalami dilema.
H+2 pengumpulan skripsi, gw akhirnya membuat keputusan.
gw menghubungi Mba Anna
dan Mas Ferdi (koordinator mata kuliah skripsi)
untuk melaporkan bahwa format sidang gw berubah.
besok harinya setelah melapor barulah gw
mengumpulkan form sidang terbuka yang berisi daftar nama
orang yang akan hadir dalam sidang gw.

supaya sidang terbuka gw memberikan manfaat maksimal,
maka gw membuat beberapa pertimbangan
dalam mengajak orang, seperti
  • gw kenal dengan orang tersebut
  • belum pernah sidang tentunya
  • sedang/akan membuat skripsi dengan metode kualitatif
  • tertarik dengan penelitian tentang organisasi mahasiswa
alhasil, gw mengajak lebih dari kuota yang diberikan.
9 orang yang gw ajak dari total kuota maksimal 8 orang.
gw senang karena orang2 yang gw ajak untuk hadir dalam
sidang gw menyambut ajakan gw dengan antusias.
gw jadi merasa berguna,
perasaan bahwa diri berguna itu penting untuk dimiliki semua manusia :)

berikutnya gw membuat janji untuk latihan sidang
dengan dosen pembimbing gw.
setelah kami menyepakati tanggal latihan sidang,

waktu persiapan sidang gw bersamaan dengan libur lebaran.
hebatnya, gw mudik bersama keluarga gw
dengan waktu mudik menggunakan seluruh masa libur lebaran.
(IYA! gw ikut macet-macetan dalam arus balik lebaran
bahkan sampai menginap di rumah tante gw di luar rencana
akibat durasi macet yang benar-benar di luar perkiraan)

bayangkan dirimu berada dalam masa libur lebaran,
di rumah nenek, dan dituntut untuk mempersiapkan sidang.
yup, hasilnya gw sangat sedikit sekali belajar.
gw sudah membuat perencanaan persiapan sidang.
setiap hari gw targetkan sudah belajar apa
dan gw sudah menyisakan H-1 latihan sidang
sebagai hari gladi resik. terdengar sempurna bukan?
tapi kenyatannya,
tidak ada hal dalam perencanaan tersebut yang terpenuhi.
semua rencana dan jadwal persiapan sidang berantakan.

latihan sidang gw terjadi di hari Senin,
dan hari minggu gw masih terjebak macet di jalan
dalam arus mudik ke Jakarta.
akibatnya, persiapan latihan sidang gw kurang maksimal.

gw tidak pernah bertanya ke dosen pembimbing gw,
apakah gw perlu mengajak orang lain hadir dalam latihan sidang gw kelak.
berikutnya gw mengetahui bahwa yang namanya latihan sidang,
selain diperlukan kesiapan diri dan kehadiran dosen pembimbing,
juga dibutuhkan pendengar lainnya yang sekiranya dapat
menanyakan pertanyaan sehingga simulasi sidang
benar-benar sungguh seperti sidang yang sebenarnya.
NAIL IT.

hasilnya, sebagaimana persiapannya yang minim,
Tesar
sang penolong
gw benar2 menghadapi sidang yang "mengerikan"
di kala latihan sidang di hari Senin sore itu...

selain dosen pembimbing, dengan sangat dadakan
gw berhasil (puji Tuhan!) mengumpulkan 2 teman gw
untuk menjadi pendengar latihan sidang gw.
dua teman penolong dan baik hati itu adalah
Tesar dan Sarah.
mereka berdua teman satu peminatan gw di psikologi.

gw pikir kehadiran 2 teman dan seorang dosen pembimbing
sudah cukup untuk menjadi pengalaman latihan sidang
yang berharga untuk gw...
tanpa disangka, ketika kami berempat sudah berkumpul,
tiba-tiba Mba Tri, seorang dosen psikologi,
turut bergabung dalam latihan sidang gw.

pada intinya, latihan sidang gw berjalan dengan sangat buruk.
well, yeah, dosen pembimbing gw dan Mba Tri mengajukan
berbagai pertanyaan yang membuat gw berharap bisa mengulang
mengerjakan skripsi, sedangkan Tesar bertanya sebagai
orang yang tidak pernah membaca tulisan skripsi gw.
tapi bobot pertanyaannya Tesar itu ga kalah dengan
bobot pertanyaan dari kedua dosen di ruangan latihan itu.
gw sangat bersyukur ada Sarah, karena seketika latihan berakhir,
Sarah membantu gw untuk menjaga supaya gw lompat dari lt. 5.

bayangkan bahwa latihan sidang itu terjadi di hari Senin
dan sidang gw adalah di hari Rabu!
kadar kecemasan gw akan sidang
menjadi begitu tinggi akibat pengalaman
latihan sidang yang telah terjadi itu.

latihan sidang itu gw lakukan sore hari, sekitar jam 4 sore.
sesampainya gw di rumah, sekitar jam 7 malam,
gw panik. benar2 panik sampai orang tua dan kakak gw bertanya
apa yang sedang gw lakukan sehingga tidak menyiapkan sidang.
ya mengingat, sesampainya gw di rumah,
yang gw lakukan cuma tiduran dengan mata terbuka,
sambil megangin handphone.
sekarang setelah gw pikir-pikir lagi,
mungkin ada kalanya waktu itu gw berharap ada sesuatu
yang tiba-tiba mengontak gw lewat handphone,
memberi tahu kalau hari Rabu itu kiamat jadi gw enggak perlu sidang.

beberapa kali mondar-mandir ke ruang tamu dan dapur,
tanpa melakukan apa2.
gw benar-benar ENGGAK TAHU harus melakukan apa.
gambaran ngulang sidang udah kebayang banget di otak gw.

akhirnya jam 21, setelah gw minta pendapat Jeje dan Edwin
mengenai presentasi sidang,
gw putuskan untuk menghubungi Tesar,
sebagai salah seorang yang gw yakin bisa membantu gw
untuk menemukan masalah dari kegagalan latihan sidang gw.

hasil dari telepon Tesar, sesuai harapan gw,
gw menjadi lebih yakin bahwa gw bisa mempersiapkan ulang
presentasi sidang gw dan membuat sidang yang sesungguhnya
akan berjalan dengan lebih baik.
omongan Tesar ditelepon sampai gw rekam,
sebagai bahan gw untuk mengoreksi cara presentasi gw.

selesai bicara sama Tesar,
gw benar-benar jadi optimis dan yakin
kalau latihan sidang gw enggak seburuk dan sekacau
yang ada di otak gw.
Tesar kasih tahu prinsip-prinsip presentasi
yang sebenarnya gw tahu tapi kalau dia enggak ngomong
waktu itu, gw mungkin beneran akan gagal sidang deh...

mendapatkan kembali diri gw, otomatis membuat gw
jadi bisa fokus untuk memperbaiki beberapa hal
dan menunda memikirkan hal2 yang salah.
gw jadi tahu akan sesuatu yang bisa gw lakukan dahulu.
kepanikan dan kecemasan gw berkurang,
walau gw terkadang masih merasakan betapa cepat
jantung gw berdegup selama gw memperbaiki presentasi.
sesekali pikiran gw masih tetap membayangkan
apabila sidang gw tidak berjalan baik dan gw harus mengulang sidang.

hari Selasa gw lalui seharian dengan belajar teori kepribadian.
hal yang menarik adalah ketika gw benar-benar belajar
tentang teori kepribadian, gw menjadi paham tentang kaitan segala hal
yang udah gw pelajari selama 4 tahun gw kuliah di fakultas psikologi.
GILA! kemana aja Stel? *ketawa miris*

seharian gw belajar teori kepribadian,
pas malam hari gw benerin lagi slide presentasi gw
dan akhirnya gw tidur jam 3 pagi.
mata gw sudah perih, kepala gw rasanya udah berat banget
tapi butuh beberapa saat hingga akhirnya gw benar-benar tidur.
gw tetap merasakan jantung gw berdetak cepat,
bayangan gagal sidang itu muncul terus di otak gw
seberapapun usaha gw untuk menghilangkannya.
puji Tuhan gw bisa tidur, akhirnya.

jam 5 pagi gw bangun, yup hari H,
4 jam lagi waktu yang tersisa buat gw sampai gw akan disidang.
sidang. beneran. sidang. sungguhan...

sebelum berangkat ke kampus, gw latih lagi
cara menyampaikan gagasan dari presentasi yang gw perbaiki.
sepanjang jalan ke kampus, gw membaca2 ulang
rangkuman teori kepribadian.
sarapan yang gw makan dalam perjalanan ke kampus benar-benar
menimbulkan rasa kenyang yang aneh.

gw sampai di kampus sekitar jam 8, sejam sebelum sidang dimulai.
gw latihan lagi untuk presentasi di suatu sudut kampus,
deg-degan, panik, sendirian.
akan menjadi sulit bagi gw, untuk mengalami kepanikan bersama orang lain.
gw cenderung akan berinteraksi dengan orang lain
dan pada akhirnya kepanikan gw tidak diatasi dengan baik.

tapi tiba-tiba, Cindy lewat dengan sangat ajaib.
gw ada di suatu sudut kampus dan dia bisa lewat.
Tuhan pasti mengirim dia untuk
menemukan dan menemani gw
sampai saat sidang gw dimulai :')

beberapa saat bersama Cindy,
gw mencurahkan sedikit kepanikan gw ke dia,
dan akhirnya gw bergerak ke lt. 4 gedung C
untuk menghadapi sidang gw.
Jeje, Grace, dan Prima sudah ada di lt. 4
ketika gw memberanikan diri untuk hadir di sekitar ruang sidang.

proses sidang itu berjalan begitu saja,
dan hasil akhirnya gw dinyatakan boleh lulus.
gw ga punya kata-kata untuk mendeskripsikan
perasaan gw di kala itu,
tapi gw sangat sangat sangat merasa bahwa
gw sangat dicintai Tuhan
dan juga gw dikelilingi oleh manusia-manusia baik hati.
rasa syukur gw ini benar-benar tidak terbendung.
TERIMA KASIH

ruangan ini menjadi saksi bisu ujian sidang gw
yang sangat berkesan.



untuk membantu gw mengingat betapa gw
harus bersyukur atas satu momen dalam hidup gw
yang berhasil gw lalui dengan lancar,
maka gw putuskan untuk mengedit foto ini
dan memajangnya di beberapa tempat.
(sayang juga sih kalau kaos fresh graduate itu hanya
dipakai satu kali. hahahaha)

"itu SURVIVE atau SURVIVED?
maksudnya lw sudah survive atau lw mau bilang
supaya terus survive?"


pertanyaan terkait urusan grammar yang ditanyakan si kakak
membuat gw berpikir lebih dalam lagi...
apakah gw sudah survive,
atau gw akan selalu survive?

(dan proses survive itu baru dimulai?)