Saturday, 14 February 2015

V-Day Edition

thanks for the article
I looked at the bold phrase and I can't think
any other explanation about the reason
why I am single. not to mention happy, too.

yes, I realize being in love is a curse,
just like one of Sondre Lerche's song,
Curse of Being In Love.
I am too much care about my own self,
I am afraid I will hurt myself bad.

"embrace the curse so it doesn't get worse"
that's the advice from Sondre.
it sounds right and seems doable.
unfortunately, I am in the middle of knowing
myself more and more.
this goal is taking so much my time and energy
I couldn't spare it with anyone besides me.
my mind is always busy thinking about other things
besides relationships.

I believe there is a period of time in everyone's life
which make them know their selves more.
maybe this is my time, after all these years
I was kept busy by other stuffs,
I guess this year is going to be my self-exploration year.

two days after I read the site I mentioned before,
I found the other one but this time about
those over-thinking humans :')
and I guess I am one of that kind of human.

I guess, I am not odd, I am just an over-thinker.
and I think a lot about happy being single.

maybe, someday, if there is an attractive-deep guy somewhere,
I would like to give it a try, starting my own romantic relationship.
maybe. one day...

Friday, 13 February 2015

Dua Hari Psikosinema 8

sumber dari sini
sejak tahun 2010, gw selalu menyempatkan diri
untuk mengikuti salah satu hari pemutaran film festival ini.
selain karena diselenggarakan oleh teman-teman satu fakultas,
sehingga gw turut mendukung acara dengan menjadi penonton,
gw pun merasa bahwa festival ini menjadi salah satu sarana gw
untuk tetap menjaga optimisme bahwa masih ada tontonan berkualitas
yang dibuat oleh sineas dalam negeri (yg masih tinggal dalam negeri).

setiap tahun tema-tema yang diusung festival ini semakin menggelitik,
membuat penontonnya mempertanyakan berbagai hal dalam hidup
mengingat isu-isu yang diusung tidak jauh dari
kehidupan manusia sebagai makhluk sosial.
dinamika antara diri dan lingkungan,
hal ini yang senantiasa semakin tajam diusung oleh Psikosinema.

tahun ini adalah kali ke-8 Psikosinema.
berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya di mana gw masih
disibukkan dengan kelas  tugas kuliah,
tahun ini, dengan status sebagai pengangguran ibukota,
gw dengan bebas menonton pemutaran film di hari apapun.

namun sayangnya, periode pemutaran film tahun ini harus bertepatan
dengan ritual banjir ibukota. hal ini menyebabkan gw hanya bisa hadir
di dua hari dari lima hari pemutaran film plus satu hari penutupan acara.
gw sangat menikmati konten diskusi dan film2 yg diputar
di hari ke-4 festival ini.

deskripsi program hari ke-4
ada lima film yang diputar. semua filmnya bagus dan menyenangkan.
diantara film yang baik itu, gw pilih Onomastika sebagai film favorit gw
karena lewat film itu, gw jadi terlibat dalam perdebatan seru dengan teman gw
mengenai hak anak vs kebermaknaan nama.
I do really enjoy the show.

film-film pendek di program hari ke-4
acara berikutnya setelah pemutaran film adalah diskusi.
figur narasumber diskusi program IV menjadi faktor pendorong
keikutsertaan gw dalam festival kali ini.
Mas Bimo, salah seorang narasumber diskusi, kebetulan adalah dosen
yg pernah mengajar gw.
kesan gw terhadap Mas Bimo tidak hanya terbentuk dari hasil interaksi di kelas
melainkan hasil gw follow akun Twitternya, @DarthConscious

meski suka ngomong hal-hal seronok, lelucon jayus,
dan tampak slengekan, nyatanya Mas Bimo adalah orang yang filosofis.
ga heran Mas Bimo yang menjadi narasumber hari ke-4 karena
topik yang dibahas di hari ini adalah tentang eksistensi dan esensi manusia.
semula gw pikir topik ini cuman sekedar memenuhi curiosity gw,
ga tahunya insightful sekali hasil diskusi hari ini.
gw merasa beruntung karena meluangkan waktu untuk hadir.


selain eksistensi ada satu unsur lagi dalam hidup manusia, namanya esensi.
most people hanya berhenti sebatas mencari eksistensi.
misalnya dengan cari banyak followers, post-post IG,
banyak-banyak friends, likes, dst yg inti sebenarnya hanya sekedar
untuk meng'ada'kan dirinya di dunia.

Mas Bimo prihatin dengan para remaja yg cenderung mengejar eksistensi
tanpa mempertanyakan esensi. Mas Bimo menjelaskan esensi sebagai perasaan
yg muncul ketika seseorang mempertanyakan eksistensinya.

(Wikantiyoso, 2015)

Mas Bimo menyarankan untuk tidak memfokuskan diri
terhadap jawaban dari pertanyaan "untuk apa gw berada di dunia ini?"
tapi fokuslah pada perasaan yg muncul ketika lw bertanya tentang hal itu.

I've been there and still be there,
di suatu kondisi di mana gw mempertanyakan esensi dari eksistensi gw.
suatu waktu gw bingung dengan tujuan gw sesudah gw menyelesaikan skripsi.
gw pikir skripsi adalah tujuan akhir, ternyata selesainya skripsi adalah suatu awal.
gw bahkan pernah ada di titik merasa cemas dengan masa depan gw
dan gw takut untuk menghadapi masa depan itu, it felt so wild, no bound,
whilst I am so little and limited.

Mas Bimo bilang esensi adalah perasaan apapun yg muncul ketika seseorang
mempertanyakan tujuan keberadaan dirinya di dunia, baik itu perasaan takut
sama masa depan, khawatir, cemas, any kind of feelings.
ketika esensi disadari, dicari, dan dijaga dinamikanya,
itulah yg nyatanya menjadi inti dari hidup, yaitu proses.

seseorang bisa saja ada di satu titik nyaman dlm hidupnya
sehingga perasaan (esensi) itu tidak lagi bergolak.
hidup terasa aman, tentram, batin juga tenang, seolah-olah semua hal sudah tercapai.
tapi ternyata, Mas Bimo enggak bilang bahwa itu adalah ultimate goal dari hidup.
Mas Bimo malah bilang bahwa apabila saat itu muncul,
saat di mana perasaan menjadi aman tentram bahagia,
ternyata saat itu juga lah seseorang perlu merefleksikan dan mempertanyakan kembali
eksistensinya sehingga esensi dirinya bisa kembali berdinamika.
dengan demikian, hubungan antara eksistensi dan esensi selalu resiprokal
dan tidak pernah berkesudahan.

kalau sudah begitu, pertanyaan berikutnya adalah,
"buat apa sih repot mengolah esensi ketika eksistensi sendiri
sudah cukup membuat nyaman manusia?"
Mas Bimo mengatakan hanya ada satu kata untuk menjawab pertanyaan tsb, kualitas.
semakin intens seseorang mengelola esensi dari eksistensi dirinya,
semakin berkualitas dan semakin berkembanglah pribadi orang tsb.

(Wikantiyoso, 2015)
kutipan di atas kurang lengkap.
omongan Mas Bimo yang gw ingat adalah analoginya tentang keju.
jadi orang yang menggali proses esensi lebih dalam itu ibarat penikmat keju
yang bisa menikmati variasi rasa hambar keju (brie, gouda, gruyere, dll).
mereka berani mencicipi keabsurdan rasa yang perbedaannya tidak jelas.
tapi kepekaan akan hal yang tidakjelas itulah yang sekiranya menjadi peningkat
kapasitas seseorang untuk senantiasa meningkatkan kualitas hidupnya.

di akhir diskusi gw melihat Mas Bimo sebagai sosok yang super humanistik,
di luar fakta bahwa apa yg dia omongin di kelas Kepribadian
selalu berkutat di dunia oral-anal-phallic ala Freud.
in the end, gw menyimpulkan bahwa manusia memang dikodratkan untuk
strive for their best-self during their life, yang kalau kata Om Maslow
hal itu disebut sebagai aktualisasi diri.
dengan demikian, hidup yang katanya hanya berjarak sejengkal
dari kematian ini bisa diisi oleh hal2 bermakna bagi manusia
yang ada dalam hidup itu sendiri.


hari berikutnya gw hadiri tidak sebagai penonton
tetapi sebagai moderator diskusi.
gw merasa excited sekaligus berdebar ketika ditawarkan
untuk menjadi moderator diskusi di hari ke-5.
selain karena hari ke-5 adalah hari pemutaran film finalis kompetisi,
gw juga punya keyakinan kalau mereka yang jadi moderator
diskusi Psikosinema adalah para manusia berwawasan luas
dan tahu banyak tentang dunia perfilman.

gw jadi lebih tenang untuk menjalankan peran menjadi moderator
setelah gw ngobrol dengan salah satu narasumber hari ini, Mas Danny.
dengan menenangkan dan meyakinkan, Mas Danny bilang kalau jadi
moderator itu tidak sesulit yang gw bayangkan.
kuncinya hanya perlu mendengarkan, mengulang, dan meminta pendapat.
he always good at soothing people. terima kasih Mas!

finalis kompetisi film pendek Psikosinema 8
topik kompetisi yang diangkat dalam festival Psikosinema tahun ini
tidak jauh berbeda dengan festival tahun lalu, masih tentang kaum muda urban.
bedanya dengan tahun lalu yang temanya lebih bebas (Kaum Muda = ?),
kompetisi tahun ini memiliki tema dengan sedikit lebih terbatas, yaitu
Kaum Muda: Jati Diri dalam Bayang Konvensional.

paparan tema program 5 Psikosinema 8
film-film yang menjadi finalis kompetisi memotret dengan baik
isu pencarian jati diri kaum muda urban.
bayang konvensional yang ditampilkan masing-masing film
cukup bervariasi tapi sebagian besar secara langsung atau tidak
membahas tentang tekanan keluarga.

diskusi terjadi dengan menyenangkan,
meski secara wajar di awal diskusi kesan canggung tidak terhindarkan
karena para narasumber tidak sempat berkenalan sebelum bicara di panggung.
detil dari diskusi hari kelima ini tidak gw ingat dengan detil
sebagaimana tulisan gw tentang isi diskusi hari keempat di atas.