Wednesday, 22 April 2015

Melihat Kembali


kurang lebih sekitar satu bulan lalu
gw nonton film Cloudy With A Chance of Meatball
untuk kedua kalinya. kali ini nontonnya di rumah, sama kakak gw.
saat nonton kedua kali ini,
gw menyadari bahwa gw mengembangkan kesan baru dari film tsb,
film yang sama dengan yang dulu gw tonton di bioskop,
bareng-bareng sama teman SMA dalam rangka libur sekolah.

kalau dulu gw anggap film Cloudy With A Chance of Meatball
hanyalah mengenai kebutuhan seorang anak untuk dapat pengakuan dari orangtua,
tapi setelah gw tonton lagi film itu, gw menemukan ada pesan lain yang
mau disampaikan oleh film tersebut.
entah efek habis nonton Big Heroes 6 atau gimana,
tapi gw menangkap bahwa memang pada dasarnya manusia itu
berkembang ke arah yang lebih baik, yang jadi permasalahan
adalah terkadang orang-orang di sekitarnya kurang memberi
ruang atau kesempatan buat orang itu mengembangkan dirinya
sesuai dengan pengembangan diri yang dia punya atau dia mau.

kemudian hari ini.
gw mencari tahu sebanyak-banyaknya tentang Raditya Dika,
seorang blogger yang karya pertamanya, buku dan blog Kambing Jantan,
sangat gw sukai dan gw anggap inovatif.
sepuluh tahun yang lalu, gw secara antusias membaca buku dan blognya
bahkan gw sampai mengikuti gaya menulisnya di blog Friendster gw
terus gw pindah ke blogger dan sampai beberapa saat kemudian
gw masih terbawa pengaruh gaya menulis Radit.
gw bukan penggemar setianya Radit,
karena dari berbagai karya yang sudah dia buat,
gw hanya mengikuti sampai komik Kambing Jantan saja.
terakhir yang gw lihat adalah Malam Minggu Miko series.
itu pun nontonnya juga enggak lengkap karena lama-lama bosan.

sekarang, saat proses mencari tahu tentang Raditgw lakukan,
gw menyadari bahwa gw mengembangkan kesan baru
dari sosok Raditya Dika.
pas gw SMP, masa di mana kekaguman gw sama Radit sampai tumpah-tumpah,
gw selalu membayang-bayangkan apa yang dia lakukan ya dalam hidupnya
hingga dia bisa inovatif dan kreatif begitu.
kelihatan banget kalau ide dia dalam membuat lelucon
seolah enggak pernah habis.
pada masa SMP itu, hal yang selalu ingin gw tahu adalah
bagaimana respon dari orang-orang di sekitar Radit yang kisahnya dia ceritakan
ulang ke dalam bukunya dan dikonsumsi oleh publik.

kegiatan mencari tahu adalah kegiatan yang serius bagi gw.
ketika gw hendak mencari tahu tentang suatu figur,
gw akan melakukannya dengan sungguh-sungguh.
gw dengan tekun menonton satu-satu video Radit di Youtube
tapi bukan karya dia yang gw tonton, melainkan interaksi dia sama orang lain.
gw pengen tahu banget dia tuh sebenarnya orang yang seperti apa.
gw yakin bahwa Radit adalah sosok yang dalam,
berbeda dengan segala hal yang terkesan tentang Radit yang gw tangkap
saat gw menikmati karyanya.

gw tonton Radit di Sarah Sechan atau di acara Net TV lainnya
dan gw masih merasa belum cukup mendapatkan gambaran
seperti apakah Raditya Dika yang sebenarnya.
akhirnya gw cari-cari lagi di Youtube dan
sedikit banyak gw mendapatkan apa yang gw cari
di beberapa video berikut.


Radit di dalam video ini tampak serius ketika
menanggapi pertanyaan-pertanyaan dari pembawa acara.
beda banget sama cara dia menanggapi pertanyaan yang ditanyakan
sama Sarah Sechan, misalnya.


gw menangkap seberapa Radit memaknai penggemarnya.
ia terlihat sangat menghargai penggemarnya.
gw sangat suka dengan sudut pandangnya tentang
berbagi kebahagiaan kecil untuk orang lain.


obrolan santai banget antara pembawa acara dan Radit.
gw semakin mendapat kesan bahwa Radit
adalah manusia dengan pengetahuan maha banyak!
dia benar-benar tahu tentang karir dan minat yang dia punya
(begitu juga kesan yang gw dapatkan setelah nonton video di bawah)


bagian terbaik dan paling berkesan buat gw dari semua video Radit yang ada,
adalah bagian pesan-pesan moral yang Radit sampaikan di bagian ke-3 dari video itu.

"komedi merupakan sebuah seni.
seni sebagaimana keterampilan lainnya, bisa diasah,
dan yang paling penting dari keterampilan adalah perseverance dan disiplin."
somehow, gw seperti bisa mencocokkan figur Radit ke salah seorang teman gw
yang mirip-mirip Radit, gayanya galau, culun, tapi witty, deep, dan philosophy.
kalau gw tebak, sepertinya si Radit itu berkepribadian
introvert, sensing, feeling, dan judging.



poster minimalis dari: sini
foto pembatas buku dari: sini