Sunday, 26 July 2015

Thump Thump

after all these years,
I have never felt this warm feeling inside my chest.
my heart is thumping fast
and there is somekind of excitement when I read texts.
I smile and re-read the texts over again.

I feel so happy today.
after such a spontaneous thing I've done yesterday,
I think today is the best day of my Eid Fitr holiday.
I feel tremendously happy.

today I attended weekly mass at Cathedral Jakarta,
for the second time after more than 20 years I was baptized.
I have some expectation to experience the same great feeling
after attending the mass, just like the one I had
when I attended the Cathedral's weekly mass for the very first time,
few months ago, with Erina, my senior in college.

but again, just like the famous Shakespeare saying,
"expectation is root of all heartache", that was what happened to me.
I disappointed because instead of getting some insights during the mass,
I only feel super sleepy.

after all, I still feel happy, ecstatic perhaps.
it is not because where the place but with whom I attended the mass.
this randomness I made impulsively yesterday
lead me into something more serious than I thought.

thanks, Dwin, talking with you made me able to make
such a silly status like this...
I think I just trapped myself, consciously,
once again messing around with feelings.
dear myself, pardon my impulsiveness.
be ready. just be ready is enough.

Friday, 10 July 2015

Disalahpahami

image taken from here
menjadi orang yang memilih untuk enggak peduli
dengan lingkungan di sekitarnya, terkadang merupakan hasil dari belajar.
orang tersebut belajar banyak bahwa menunjukkan banyak kepedulian
merupakan hal yang sangat salah untuk dilakukan di dunia yang kejam ini.
perilaku peduli menjadi salah karena seringkali disalahpahami.

salah paham yang seringkali terjadi adalah
dianggap punya tujuan lain yang berbeda
daripada perilaku yang tampak.
misalnya gw marah sewaktu dijemput. gw dianggap tidak tahu diri.
padahal gw marah karena gw enggak mau dijemput, tapi penjemput
tetap ngotot mau menjemput. gw marah karena gw peduli sama si penjemput.
gw enggak mau penjemput merasa capek (Jakarta mahamacet kan ya).

dianggap kepeduliannya semu.
misalnya gw suatu hari menyadari suatu perilaku gw,
yang biasanya gw lakukan, ternyata merugikan orang lain.
gw kemudian melakukan perilaku tersebut tapi sambil ngomong
"maaf ya X, gw ngerepotin"
tanggapan yang sering gw dapat adalah
"ah lw, biasa juga ngerepotin tapi enggak peduli".

gw menggunakan diri gw sebagai contoh karena
memang seringkali pengalaman itulah yang gw alami.
saat ini gw sedang menyadari sepenuhnya
asal muasal ketidak pedulian yang seringkali gw tunjukkan pada orang lain.

gambar yang sama dengan di sini
terima kasih dunia.
tugas gw untuk bertahan menjadi Stella yang sesungguhnya,
kini terasa semakin berat.

Thursday, 9 July 2015

Thanks to You, Mariana

picture taken here
there was one day when my friend, Mariana,
revived my old teenage dream job with saying
(I don't remember the exact phrase)
"Stell, dulu lw kan mau jadi penyiar?"
"Stell, you had a dream to be an announcer, didn't you?"

it maybe just a trivial talk for her,
but I think about what she talked more and more.
I was so occupied with my college life,
I forgot all my dreams I was once had.

I believe there is nothing happened by chance.
I don't remember when is the day but some days
after Mariana's words filled up my mind,
my mom told me that Komsos KAJ was looking for
a volunteer announcer for their online radio program.

I attended the assessment process on 6th June
and this afternoon I received the formal announcement.
I am a bit don't believe I was accepted,
I think I don't have those criteria they mentioned on the mail below.
The committee has just tried their best to be polite, I guess.

sorry for the poor quality of the image.
I am excited to be there, on our very first meeting.
I hope this will be a new (good) way for me
to make myself nearer with Him and also develop myself more.

thanks to you Mariana. you are always the best!

Monday, 6 July 2015

Self-Talk Intro

thanks for the image, tumblr!
I am an over-thinker, so when it comes to simple things
even just labeling blog posts, I think about it much.
I pick words carefully because I hope my blog posts
will be classified beautifully only on few labels.
I don't like blogs with so many labels, like most Instagram users
who happen to overuse the hashtags.

after some years, I am able to make only six labels
for my more than 100 blog posts.
I am pretty pleased with this fact
until one day when I wanted to re-read my old posts
and it is difficult for me to find the post I was looking for
because all of my six labels consist of too many posts.

today will be the day when I stopped my silly belief which is
the lesser labels, the better. IT IS WRONG.
I am still going to keep those six big labels, but I think I have
to create some smaller labels to make my blog posts more organize.



my self-talk today is about procrastination,
the ugliest habit I ever have.

When you could read and write about a lot of interesting stuffs, why do you spend your precious time only for pretending to be an imaginary town major???
yes, after I realizing it, now I know where does most of my time
during these 3 months go to...
I am so engage in playing Township. oh my...

Wednesday, 1 July 2015

Petunjuk Menjenguk Orang Sakit

ilustrasi dari sini

gw bukan seorang perawat, atau seorang dokter
yang memiliki latar belakang medis yang kuat.
gw hanya seorang anggota masyarakat yang kadang sedih
melihat betapa mudahnya seseorang mengatakan
"sabar, yang kuat, bawa doa aja, dia pasti sembuh kok"
kepada mereka yang sedang sakit.
ya KALAU sembuh, kalau enggak sembuh?
salahin dokter karena ga bisa sembuhin?
salahin Tuhan karena ga dengerin doa?
salahin keluarga karena kurang sabar?

tulisan ini tidak membahas unsur medis
dalam suatu peristiwa sakit penyakit fisik.
tulisan ini seutuhnya membahas tentang kondisi manusia yang sakit,
maupun keluarga dari manusia yang sakit tersebut.

gw mempercayai bahwa kematian itu misteri
dan penderitaan itu adalah nasib yang harus dijalani manusia
seketika manusia lahir di dunia ini.
oleh karena itu, gw sering iba kepada mereka yang bisa dengan mudah
mengucapkan kalimat template kepada orang yang sedang sakit
atau kepada anggota keluarga dari orang yang sakit tersebut.
ucapan untuk sabar, melakukan doa,
atau bahkan sumbangan optimisme tidak perlu
seperti mengucapkan "iya, pasti sembuh", "percaya mukjizat",
menurut gw sebaiknya perlu dipikirkan sebelum disampaikan dengan mudah,
seolah-olah kalau jenguk atau dengar berita tentang orang sakit,
kalimat template tersebut harus terucap.

sabar.
ilustrasi mudahnya, bayangkan saja jika Anda sakit panas tinggi selama berhari-hari.
ucapan untuk bersabar itu sepertinya menjadi tidak masuk akal.
anggota keluarga yang hubungan antar individunya baik,
tentunya sulit untuk bersabar ketika ada keluarganya yang sakit.
kecemasan, kepanikan, kekhawatiran bercampur jadi satu ketika
salah seorang anggota keluarga tidak kunjung sembuh dari suatu penyakit,
terus dibilang "yang sabar ya". ini pasti maksudnya lagi bercanda.
menurut gw, menyampaikan ke mereka untuk sabar sama sekali tiada berguna.
lebih baik diam saja dan memberikan tepukan di pundak atau pelukan singkat
kepada si sakit atau keluarganya, daripada mengucapkan sesuatu
yang tidak ada faedahnya.

doa.
hubungan antara manusia dan Tuhan-nya, apapun itu keyakinannya akan Tuhan,
sangatlah kompleks dan unik antar satu manusia dengan manusia lain.
kalau kebetulan keyakinannya serupa, well, agamanya sama, cara berdoanya sama,
ya masih bisa diterima kalau penjenguk memberi saran untuk berdoa.
akan tetapi, gw pribadi lebih suka untuk mengajak diri gw sendiri berdoa
untuk hal yang terbaik yang terjadi pada si sakit. ijin dulu ya tentunya, kalau diperbolehkan
untuk mendoakan ya baru gw mendoakan. siapa yang bisa tahu juga apakah
keluarga atau bahkan si sakit itu sendiri masih percaya Tuhan
ketika mereka dihadapkan pada momen sakit penyakit tersebut.

optimisme semu tentang kesembuhan.
NAH! ini adalah hal yang paling menyiksa gw kalau gw jenguk orang sakit.
pasti ada aja, siapa lah gitu, yang bilang sesuatu berbau
optimisme-palsu-enggak-perlu-diomongin, seperti
"iya, udah enggak sakit kan? nanti pasti sembuh deh".
menurut gw kalimat ini enggak ada perlu2nya buat diucapin.
enggak pernah ada yang bisa menjamin apakah seseorang
akan sungguh sembuh, sembuh terus sakit terus wafat, sakit makin parah terus wafat,
misteri lah itu semua menurut gw. anggap gw parah banget
dengan berpikir demikian. menurut gw, ini bukan pikiran buruk, tapi REALISTIS.

berdasarkan pengalaman, gw merasa bahwa semakin banyak orang
yang mengatakan kalau si sakit akan sembuh, muncul suatu harapan
yang semakin tinggi juga terhadap si sakit bahwa si sakit akan sembuh.
gw tidak bilang bahwa memiliki harapan itu hal yang tidak baik.
harapan dapat mempengaruhi kesehatan seseorang, tetapi perlu diingat juga
bahwa harapan yang tinggi membawa konsekuensi kekecewaan yang juga tinggi.

kutipan diambil dari sini

marilah membiasakan diri untuk tidak menjadi orang jahat
dengan menebar benih2 harapan yang berpotensi untuk menimbulkan kekecewaan.
menurut gw, alangkah baiknya jika ketika menjenguk, penjenguk tidak bicarakan
kalimat absurd semacam "pasti sembuh", "iya, pasti sehat", dan segala
macam jenis sok tahu-sok tahu tentang kepastian kondisi si sakit.
gw sendiri lebih suka untuk mengucapkan "semoga cepat hilang rasa sakitnya"
(jika si sakit merasa kesakitan) atau "semoga terjadi yang terbaik ya".
biarkanlah yang masih misteri, tetap menjadi misteri.

oh iya, please, jangan ditambah iming2 "percaya mukjizat itu nyata!".
menurut gw, kata2 itu udah yang paling jahat karena bisa meningkatkan harapan
ke level yang paling tinggi. terkadang gw merasa kurang tega
dengan keluarga yang luar biasa berharap kalau anggota keluarganya yang sedang sakit
akan mungkin untuk mendapat mukjizat kesembuhan. hasilnya,
meski si sakit sudah sesak napas sampai perlu dibantu oleh alat bantu napas,
keluarga tetap berusaha mempertahankan hidupnya tanpa lagi bisa melihat
bahwa si sakit sedang bergumul dengan kesakitan dari penyakitnya secara luar biasa.
gw bisa mengatakan hal seperti ini, mungkin karena gw hanya menyaksikan dan tidak
mengalami langsung. akan tetapi gw pasti kelak akan lebih peduli
sama kesejahteraan orang yang sedang sakit dibandingkan egoisme gw
untuk tetap mempertahankan eksistensi orang yang sakit di dunia
supaya gw enggak kehilangan dia. orang sakit terus ditahan-tahan sakitnya demi bisa hidup
lebih lama, well, itu enggak bukan konsep rasa sayang yang gw punya.

menurut gw, sikap rela dan pasrah serta menerima menjadi sangat penting untuk dibina
dalam kondisi demikian sehingga DARIPADA berimajinasi berjamaah tentang mukjizat,
akan lebih baik jika keluarga mulai menyiapkan diri untuk rela, pasrah, dan menerima
apapun yang terjadi dengan diri pasien. gw enggak bilang kalau percaya akan mukjizat
itu merupakan suatu kesalahan, tapi bagi gw pribadi, persiapan batin untuk menerima
kondisi si sakit jauh lebih penting karena persiapan ini jelas lebih bisa dikontrol oleh manusia
dibandingkan dengan terjadinya sebuah mukjizat kesembuhan (yang enggak tahu juga itu mukjizat
terjadinya kapan).




kepedulian gw terhadap kondisi sakit penyakit orang lain
(bukan sakit hati, gw masih kurang gitu peduli sama sakit hati orang lain)
tidak muncul sejak gw bayi. gw baru peduli ketika satu atau dua tahun belakangan
gw dihadapkan pada tuntutan usia, yaitu menjenguk orang sakit tanpa didampingi
oleh orang tua alias pergi sendiri, ya paling bareng teman2.

hal paling signifikan yang gw rasakan jika gw pergi jenguk orang sakit sendiri
adalah gw harus bertanggung jawab atas apa yang gw ucapkan dan apa yang gw lakukan
selama berada di sekitar orang sakit tersebut.
pengalaman menjenguk ini sangat berbeda ketika dilakukan bersama dengan orang tua.
gw kalau jenguk orang sakit bareng bapak ibu, bahkan gw bisa menjadi arca yang hanya
ada di dalam ruangan, diam seribu bahasa, kemudian menyunggingkan senyum di awal
kedatangan dan di akhir sebelum kepulangan.
perilaku yang sangat berkebalikan yang gw tunjukkan ketika gw menjenguk orang sakit
sendiri, tanpa orang tua. gw enggak mungkin cuma diam dan senyum2.

menyadari akan adanya peran sosial baru dalam usia perkembangan gw,
maka gw pun berusaha lebih peka dan hati-hati ketika berinteraksi dengan
orang yang sedang sakit suatu penyakit tertentu sehingga dirawat di rumah sakit,
atau ketika gw berinteraksi dengan anggota keluarga dari si sakit.
suatu hari, gw menemukan buku ini di rumah, entah punya siapa, gw tanya
enggak ada yang mengakui kepemilikan atas buku ini.

tidak bisa ditemukan tautan ke buku ini...

ditulis oleh seorang rohaniwan dengan latar belakang pendidikan doktor
di bidang psikologi klinis, buku ini berisi panduan sikap dan perilaku
untuk siapa saja yang akan merawat atau mengunjungi orang sakit.
gw sangat menyukai buku ini. selain karena ini merupakan buku pertama tentang
tata cara mengunjungi orang sakit yang pernah gw baca,
buku ini sangat baik untuk dibaca oleh orang Indonesia karena buku ini
didasarkan pada kumpulan pengalaman penulis selama ia memberikan konseling,
merawat, dan mengunjungi orang sakit.

bab 9 dari buku ini berjudul "Yang Boleh dan Tidak Boleh Saat Mengunjungi Orang Sakit".
ringkasan dari bab 9 tersebut adalah sebagai berikut.

berkaitan dengan tugas dokter/perawat.
lakukan:

  • bantu mengurangi kecemasan pasien dengan memberikan telinga untuk mendengarkan.

jangan lakukan:

  • mencampuri tugas dokter, beri kesempatan dokter menyelesaikan tugas sebelum Anda mulai bicara dengan pasien.
  • mengatakan pada pasien "saya punya obat lebih baik dari obat yang kamu minum".
  • mengkritik dokter di depan pasien, hal ini dapat mengurangi semangat pasien dan juga kepercayaan pasien terhadap dokter.
  • memberikan rekomendasi dokter lain kepada pasien jika pasien masih berada di bawah penanganan seorang dokter. rekomendasi diberikan HANYA JIKA pasien mengeluhkan tentang dokter yang merawat dirinya.
  • mengurus kebutuhan pasien tanpa sepengetahuan dokter atau perawat.
berkaitan dengan keluarga pasien.
lakukan:
  • membantu memenuhi kebutuhan pasien, terutama kebutuhan rohani.
  • membantu keluarga menghadapi masalah emosional dan spiritual, bicaralah dengan mereka.
jangan lakukan:
  • mencela atau menilai keluarga karena tampak tidak atau kurang merawat pasien. bagaimanapun hubungan dalam suatu keluarga, semua anggota keluarga akan terpengaruh secara emosional jika ada salah satu anggota keluarganya yang sakit. 
berkaitan dengan pasien.
lakukan:
  • bicara untuk mengurangi rasa bersalah pasien.
  • mendengarkan agar pasien dapat membuka hatinya atau menyelesaikan urusan yang belum terselesaikan (seperti marah, benci, dsb).
jangan lakukan:
  • mempersalahkan pasien bahwa sakit yang diderita mereka merupakan akibat dari kelalaian mereka sendiri ("kamu sih merokok jadi sekarang sakit paru2!")
  • memaksa pasien untuk mengaku dosa atau meminta maaf.
  • memberi harapan palsu tentang kesembuhan jika pasien didoakan oleh orang tertentu atau dengan mendatangkan rohaniwan tertentu.
  • memaksakan iman Anda kepada pasien.
gw enggak bisa lebih setuju lagi dari saran2 RD Alfons Sebatu di buku itu.
terima kasih ya RD Alfons Sebatu, untuk karya Anda yang insightful.