Wednesday, 16 March 2016

Tiga Tahun Berlalu, Kita Berjumpa Kembali

Sato Kanae's artwork.
gw selalu ingat dalam suatu ibadah,
seorang imam berkata "perjumpaan membawa perubahan".
berulang kali gw mengalami dan sungguh menyadari hal tersebut,
begitu pun dengan perjumpaan kali ini.

tahun 2011 kita bertemu dalam keadaan yang sulit.
tahun 2013 kita kembali bertemu namun dalam
saat yang sangat singkat.
kini di tahun 2016, kita kembali dipertemukan.
satu benang merah dari semua pertemuan kita,
sama sekali tidak terduga.

jika 3 tahun lalu, pertemuan kita senantiasa
membawa genangan dalam mata
dan memunculkan berbagai kenangan masa lalu.
kini dengan berbangga gw menjumpai kita,
dengan pelupuk yang kering
dan senyum cerah yang tersungging.

gw pun baru menyadari perubahan ini
setelah kita melalui beberapa kali perjumpaan
yang tidak terencana.
sejak pertama kali kita kembali dipertemukan,
tidak lagi gw merasa perlu untuk mengerjap-kerjap
akibat kumpulan air yang mengacaukan penglihatan.

gw bangga dengan diri gw sendiri.
gw merasakan ada sebuah kemajuan,
suatu perkembangan yang positif dalam diri gw.
ada sesuatu yang menguat, meski kurang gw ketahui apakah itu.
setidaknya hal misterius tersebut dengan efektif
bisa menahan diri gw untuk berkaca-kaca
saat kita bertemu.

membaca tulisan gw 3 tahun lalu,
tidak heran gw dibilang sebagai anak baper,
bawa perasaan. bahkan tulisan ini pun terbaca
sangat penuh perasaan. hahaha.

membaca tulisan gw 3 tahun lalu,
tidak heran gw merasa sangat butuh
waktu untuk mencurahkan kesesakan
yang kala itu memenuhi diri.

membaca tulisan gw 3 tahun lalu,
gw merasa malu dengan diri gw sendiri.
begitu lemah dan rapuh,
seakan tidak bisa berdamai dengan masa lalu sendiri.

3 tahun berlalu, lalu kita berjumpa lagi.
sekilas tidak ada yang berubah dari kita.
gw masih dengan kekaguman ketika isi bicaranya
menunjukkan kecerdasan menangkap hal dengan cepat dan jitu.
gw masih dengan rasa senang ketika disapa dengan nama.
gw masih dengan rasa senang ketika ditanya hal kecil,
sederhana, yang menunjukkan perhatian.
"bagaimana caramu pulang?"
"apakah kamu membawa payung?"

di sisi lain,
gw merasakan ada penuaan.
bukan, bukan pendewasaan, tapi penuaan.
tua dalam arti semakin lemah.
tua dalam arti semakin letih.
tua dalam arti semakin banyak pengalaman
yang hanya perlu diketahui oleh dirinya sendiri.

kali ini gw bisa mengucapkan terima kasih.
meski demikian, rasa syukur ini rasanya
tidak akan pernah habis untuk diungkapkan
sekedar dalam kata,
sekedar dalam aksara.

tidak ada yang bisa gw lakukan,
selain memohon lebih kepada Sang Pemilik Kehidupan
untuk senantiasa memberikan kesehatan
dan kedamaian dalam hidupnya.

terima kasih ya Baja, Badak Jawa.