Tuesday, 16 August 2016

Iman Itu Keyakinan

Bicara tentang iman berkaitan kuat dengan perbincangan tentang agama.
Menurut gw, tidak demikian.

Iman itu keyakinan dan ketika bicara tentang keyakinan,
tentu pembahasannya bisa sangat luas.
Bahasan semacam "kamu yakin ga lapar?",
kemudian "kamu yakin manusia itu lahir dengan sepuluh jari?",
sampai ke "kamu yakin ga kalau Tuhan itu ada?"
adalah sebagian kecil dari keseluruhan bahan pertanyaan
yang bisa diajukan untuk menanyakan keyakinan seseorang terhadap suatu hal.

Manusia itu pada dasarnya makluk empiris,
apa-apa mesti berdasarkan pengalaman, data, atau informasi yang konkret.
Pertanyaan "kamu yakin ga lapar?"
akan lebih mudah dijawab kalau kondisi perut seseorang
sungguh sedang keroncongan dibanding ketika kondisi perut
sudah diisi makanan 2 jam sebelum pertanyaan tersebut muncul.
Pertanyaan "kamu yakin manusia lahir dengan sepuluh jari?"
akan mudah dijawab kalau orang tersebut
pernah melihat janin memiliki sepuluh jari.
Itulah sebabnya pertanyaan yang sifatnya abstrak seperti
"kamu yakin ga kalau Tuhan itu ada?"
senantiasa selalu menjadi perdebatan karena
setiap orang punya pengalaman empiris yang berbeda
dengan figur Tuhan. yang intangible.

Mereka yang tidak pernah merasa punya pengalaman bertemu Tuhan,
akan meyakini bahwa Tuhan itu tidak ada. Begitu pun sebaliknya.
Tidak mengherankan ada perbedaan keyakinan akan Tuhan versi masing-masing orang
karena pengalaman manusia dengan Tuhan adalah pengalaman unik dan personal.

Sifat pertanyaan "kamu yakin ga kalau Tuhan itu ada?"
sebenarnya secara esensi serupa dengan pertanyaan "kamu yakin ga lapar?".
Jawaban dari kedua pertanyaan itu sangatlah bergantung
dari kondisi si penjawab dan si penanya hanya akan bisa menerima jawaban
tanpa bisa maksa.
Tidak masuk akal jika ada orang yang beranggapan,
"orang seharusnya beragama Kristen karena yakin Tuhan itu maha baik".
Keberadaan agama dan keyakinan tidak selalu bersamaan dalam diri seseorang.


Jika seseorang tidak yakin, mustahil orang tersebut bisa engage
dalam suatu ritual keagamaannya.
Sederhananya, mereka yang yakin bahwa batu di sungai membawa keselamatan,
ya tentu yang akan mereka lakukan adalah memuja dan menyembah batu tersebut.
Karena itu yang mereka yakini, itu adalah iman mereka.
Begitu pun juga dengan mereka yang yakin bahwa agamanya membawa keselamatan.
Mereka akan melakukan hal-hal yang merupakan ajaran dari agamanya.
Kembali lagi karena itu yang mereka yakini, itu yang mereka imani.

Jadi bingung kan agama itu buat apa. Beneran candu doang ya sepertinya.
Tapi balik lagi ke urusan iman sih,
seberapa seseorang yakin agama itu candu dan bukan sarana menuju keselamatan.

Ya ya, keyakinan memang pada hakikatnya mustahil untuk dipaksakan.

you can lead a donkey to a river
but can't make him drink the water  -Haitian proverb



28/8/16 11:39 AM

Ulil mengatakan dengan sederhana, tiga inti iman di sini

Pertama, keyakinan yang mendalam, yang berasal dari hati dan tanpa syarat.
Kedua, ucapan saja tidak cukup, hanya sebatas simbolis.
Ketiga, iman yang dibuktikan dengan tindakan.

Nicely said, Om!