Tuesday, 30 August 2016

Ojek di Pagi Hari

masker berplastik yang tidak ramah lingkungan
namun ramah sebagai bahan pembuka percakapan.

Cerita ini diawali dengan kalimat penasaran gw:
"Mas, ini (masker wajah dan rambut) dibungkusin satu-satu gini tuh inisiatif sendiri atau udah jadi begini sih?"

"Sendiri lah Mba"

"Seriusan banget Mas?"

"Iya, Mba, kerajinan ya? Gak apa-apa deh biar beda."
Sebenarnya dalam hati gw pengemudi ojek ini buang-buang plastik ga perlu. Tapi gw ga lagi bersemangat untuk berargumen jadi gw iya-in aja omongan dia.

Selang enggak berapa lama, gw akhirnya ngobrol sama pengemudi ini. Sebenarnya obrolan kami sederhana, gw bertanya-tanya tentang alasan dia memilih brand ojek yang satu dibanding yang lain, gw juga menanyakan hal apa yang membuat dia bertahan di brand tersebut.

Seingat gw, terakhir gw ingin tahu tentang dunia ojek online adalah di masa awal kemunculan ojek online. Sekarang gw jadi ingin tahu apakah ada perubahan persepsi dari para pengemudinya.

Pengemudi ini baik dalam membuat percakapan. Meski beberapa responnya tidak sesuai dengan pertanyaan yang gw ajukan, tapi dia berhasil membuat gw mengabaikan handphone yang biasanya jauh lebih menarik dari apapun di sekitar gw.

"Saya belum pernah lihat Mas, ada pengemudi motor yang sekaligus terdaftar di berbagai brand ojek online. Beda gitu sama pengemudi mobil."

"Ya iyalah Mba. Sederhananya ya, Mba kalau pedekate terus cowoknya ada banyak, bisa fokus ga? Driver juga gitu. Bisa sih kedaftar di sana sini, tapi entar ga fokus Mba."

Obrolan kami berkembang, dari sekedar membahas profesi pengemudi; pengalaman masa lalu si pengemudi menjadi panitia 17-an untuk para veteran di Tugu Proklamasi; sampai akhirnya pembicaraan tentang keluarga, analisis diri, dan ditutup dengan wejangan tentang jodoh.

"Jadi apa Mas, bedanya anak cewek sama cowok?"
"Beda pembawaannya Mba, jadi kalau sama anak cowok tuh dilihatin aja, dipelototin mereka bisa langsung paham. Anak cewek harus pelan-pelan diberitahu, ga bisa pakai nada tinggi-tinggi."

"Oh jadi anak cewek bikin Mas belajar sesuatu yang baru?"

"Iya Mba, ini anak 3 cowok beda-beda. Anak cewek, beda lagi. Kalau ada yang bandel, nanti ada yang jadi alimnya. Good guy bad guy gitu Mba. Kayak Mba deh, Mba kan tomboy gitu, punya pendirian, nah saudara Mba pasti ga gitu."

"Oh jadi Mas lagi analisis saya?"

"Lah kan Mba konsultan, kerjaan analisis, bisa aja Mba lagi analisis saya juga. Mba ga bilang enggak, berarti benar."

"Kalau di rumah nurut semua ya jadi bosan toh Mas."

"Mba juga kritis."

"Tahu dari mana Mas?"

"Mba minta masker sebelum ditawarin, cara bicara Mba, itu kan menunjukkan sesuatu Mba. Ini belum termasuk tatapan mata loh."

"Ini saya yang gampang dianalisis atau Mas yang udah kelamaan hidup ya?"

"Anjir! Berasa saya hidup dari jaman fosil batu gitu Mba?"

"Hahahaha"

"Saya suka bikin orang ketawa, tapi bukan karena ngejek atau merendahkan orang lain gitu."

"Nanti di depan belok ya Mas."

"Orang kalau enggak married-married itu biasanya karena kebanyakan milih Mba."

"Belok situ aja Mas, lebih dekat.
"


Gw menuliskan catatan terima kasih dalam aplikasi ojek online untuk si Mas pengemudi ojek yang gw tumpangi tadi pagi.
  1. Karena dia membuat gw sadar kalau laki-laki dewasa usia 30-an mudah dalam melakukan analisis terhadap orang lain, terlepas apapun latar belakang pendidikan dan profesinya.
  2. Karena dia membuat gw sadar kalau kemampuan "membaca" orang itu bukan kemampuan eksklusif para lulusan fakultas psikologi.
  3. Karena dia membuat gw sadar kalau kepemilikan anak membuat tingkat kedewasaan dalam diri seseorang melonjak.
Terima kasih ya Mas.
Besok-besok kalau ada orang yang bisa mengenali diri saya dengan cepat, saya tidak akan terkejut.
Kemampuan untuk bisa dengan cepat mengenal seseorang itu ternyata hal yang wajar seiring bertambah banyaknya usia seseorang.

Banyak rejeki ya Mas!