Sunday, 20 November 2016

Kumpul Bocah

Pertemuan yang tujuannya kurang jelas,
tapi bersama mereka selalu ada pembelajaran baru :)
Kenapa bisa dibilang tujuannya tidak jelas,
karena awalnya tujuan kami berkumpul (gw kira) karena
mau menjenguk atau menghibur salah satu teman kami yang ibunya
baru saja menjalani mastektomi.
Akan tetapi sebagaimana pertemuan yang biasanya terjadi jika
perencanaannya dadakan, begitupun pertemuan kami kali ini.
Kami berkumpul kemudian baru tahu kalau teman yang ingin kami hibur
ternyata tidak bisa ditemui hari ini. Eng. Ing. Eng.

Alhasil kami jadi ganti rencana. Semula maunya kumpul untuk menghibur teman
akhirnya kami berkumpul untuk menghibur diri kami sendiri.
Ya, memang hanya ketawa bodoh dan bercanda tolol yang kerap terjadi
jika kami sudah bertemu satu dengan yang lain.

Menarik, pada kumpul-kumpul kali ini, seorang teman yang biasanya
tidak mau membicarakan kehidupan relasi antar dia dan pasangannya
sedikit banyak sekarang bercerita.
Ia juga sesekali membahas tentang keluarganya yang tampak sempurna
dengan secara implisit menunjukkan sikap negatif terhadap beberapa
anggota keluarga yang ia ceritakan.
Gw senang dengan fakta ini. It feels like I know him more.

Permasalahannya adalah, dengan teman gw itu lebih terbuka
dan dengan dia menceritakan kehidupan personal yang selama ini tidak
pernah gw dengar, gw menjadi sadar bahwa gw memang dalam kekacauan.
Beberapa kali gw dibilangin sama teman gw,
"Segala hal itu mungkin terjadi, Stel"
"Orang itu macam-macam, Stel"
"Enggak semua orang gitu, buktinya blablabla ..."
dan ajaibnya, percakapan biasa aja yang disampaikan teman gw itu
membawa gw ke sebuah pembelajaran baru tentang diri gw:
Gw masih belum berhasil mengatasi ekspektasi idealis naif tolol
yang pada akhirnya hanya memberikan keputusasaan tidak perlu.
Dulu gw pernah mendapat umpan balik dari salah seorang dosen
yang cukup mengenal bagaimana gw berperilaku di konteks kegiatan mahasiswa.
Beliau pernah mengingatkan gw untuk menjadi pribadi yang adaptif.
Well, pengalaman berkumpul dengan bocah-bocah ini membuat gw kembali
memutar ulang umpan balik yang dulu pernah gw dapatkan.
Tampaknya gw masih belum banyak belajar dan berubah dari masukkan tersebut.

Gw cukup sedih dan prihatin dengan diri gw sendiri ketika menuliskan hal ini.
Gw sadar betul betapa masih kurang dewasanya gw.
Meski demikian gw tahu para bocah ini akan selalu menerima gw apa adanya.
Sebuah fakta menyenangkan yang juga sekaligus menjadi petaka
karena keberadaan mereka menjadi zona nyaman gw untuk tidak berubah.
Thank you guys, for being there.
Please stay still so that I know
I will always have people who accept me for whoever I am.