Tuesday, 27 June 2017

(Semoga) Menjadi yang Terakhir


rebahan dambaan.
ilustrasi apik ini dari sini.

semua berawal dari kongkow DH terakhir.
salah seorang teman bercerita dia akan segera melepas status jomblo.
antara terkejut dan tidak, sebuah ketakutan menjadi
"the one who left behind", tiba-tiba muncul.

perasaan takut itu membuat gw cukup galau beberapa hari.
perasaan tidak tenteram menghantui gw yang gw sendiri ga tahu
apa penyebab utamanya. berita dari teman gw itu hanya menjadi stimulus,
gw percaya masih ada root cause dari ketidaktenteraman jiwa
yang gw alami.

ada kalanya gw merasa sangat ingin reach out to someone,
tapi rasanya sangat sulit menemukan that one figure I trust enough
untuk bisa mengembalikan ketentraman jiwa gw.
gw berpikir, mencari figur itu di daftar kontak gw, nihil.

galau. sendirian. gw berpikir keras gimana cara menghilangkannya.
sebuah pengalaman tidak menyenangkan.

gw menduga-duga, ada beberapa penyebab gw merasa takut tertinggal.

  • baru-baru ini gw menyadari ada yang berbeda dengan tahap perkembangan psikologis gw, dibandingkan dengan teman-teman seusia gw yang lain.
  • di usia yang sama dengan gw, teman di sekitar gw sudah punya gambaran yang jelas tentang kehamilan, pernikahan, pertunangan, kepemilikan rumah, pendidikan lanjut, dan jenjang karir yang ajeg.
  • gw yang tahun lalu baru mengalami ketidakberhasilan pengajuan beasiswa untuk S2, seperti kehilangan arah. gw enggak tahu kapan mau coba lagi untuk ambil S2, aspirasi karir pun jadi turut kabur.
  • pertanyaan sederhana yang bahkan ditanyakan dua kali di tahun yang berbeda oleh seorang teman yang sama, "kapan mau married, Stell?", sampai sekarang masih belum bisa gw jawab.
intinya, gw mengalami krisis keyakinan bahwa gw berkembang dengan wajar
selayaknya manusia sebaya gw yang lainnya.
pelepasan bayi kura-kura ke lautan menjadi ilustrasi yang sangat menggambarkan
apa yang gw rasakan saat ini.
menjadi bayi kura-kura yang paling belakang, rawan dimangsa musuh terlebih dahulu,
begitu juga dengan bayi kura-kura yang paling depan.
ya kan?

laut jadi tujuan, meski tanpa tuan di depan.
ilustrasi apik dari sini.

bukan kebetulan, di saat-saat galau gini di dekat rumah gw
sedang dilakukan novena St. Antonius Padua.
gw tergoda untuk memasukkan intensi ke St. Antonius
supaya Dia membantu gw menemukan jodoh yang sampai sekarang masih hilang.
akan tetapi niat yang kurang kuat itu
hanya membuat gw berakhir dengan membuka online dating apps.

iya, gw punya profil di online dating apps.
menurut gw, aplikasi itu menjadi sarana termudah untuk memenuhi
kebutuhan berinteraksi dengan orang asing dengan segera.
kebutuhan dasar seorang ekstrovert (yang malas dan bermental instan).

berbeda dengan Stella beberapa bulan lalu,
kali ini gw membuka aplikasi itu dengan tekat
bahwa ini akan menjadi interaksi instan terakhir
yang gw upayakan dengan orang asing.

gw dengan jenuh dan enggan membuka, melihat, membaca
satu per satu profil orang yang mengirimkan pesan ke gw.
ada orang lama, ada juga orang baru.
percakapan awal yang sama, profil tipikal yang sama,
pada akhirnya gw merasa jengah.

akan tetapi karena ini gw dedikasikan sebagai momen terakhir
mengakses aplikasi online dating,
gw akhirnya membuat sesuatu yang berbeda.
gw memutuskan untuk mencantumkan identitas agama di dalam profil.
hal yang tidak pernah gw lakukan sebelumnya karena gw tidak merasa
orang lain perlu mengetahui apa yang gw yakini.

perubahan yang gw lakukan membawa hasil.
gw yang awalnya skeptis akan bertemu dengan orang seiman,
ternyata setelah gw mencantumkan agama gw di profil,
ada juga yang punya agama yang sama,
iman yang sama, yang membuat kami berinteraksi sampai sekarang.

semoga kamu menjadi yang terakhir.
kalau pun tidak menjadi yang terakhir,
semoga kita meninggalkan jejak untuk meningkatkan kedewasaan bersama.